<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5303191</id><updated>2011-04-21T22:06:48.724-07:00</updated><title type='text'>Rumah Tanggaku Surgaku</title><subtitle type='html'>Indahnya KaruniaMu ya Allah,yang telah mempersatukan kami menjalin tali kasih dalam naungan Nikmat dan Cinta-Mu.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mirai-he.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mirai-he.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ayunda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12752343010585067851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5303191.post-94824683</id><published>2003-05-24T05:19:00.000-07:00</published><updated>2003-08-27T00:33:36.680-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;" 40 Nasehat Memperbaiki Rumah Tangga"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Isi : &lt;br /&gt;MUKADDIMAH&lt;br /&gt;Rumah Adalah Nikmat Yang Mendorong Seorang Muslim Memperhatikan Ishlah (Perbaikan) Rumahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa Sarana-sarana untuk Memperbaiki Rumah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;MEMBANGUN RUMAH TANGGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (1): Memilih Isteri yang Tepat&lt;br /&gt;Nasehat (2): Upaya Membentuk (Memperbaiki) isteri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASPEK KEIMANAN DI RUMAH&lt;br /&gt;Nasehat (3): Jadikanlah Rumah sebagai Tempat Dzikrullah (Mengingat Allah)&lt;br /&gt;Nasehat (4):Jadikan Rumahmu Sebagai Kiblat&lt;br /&gt;Nasehat (5): Pendidikan Keimanan untuk Anggota Keluarga&lt;br /&gt;Nasehat (6): Perhatian pada Do'a-do'a yang Disyariatkan dan Sunnah-sunnah yang Berkaitan dengan Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (7): Rutin Membaca Surat Al-Baqarah di Rumah untuk Mengusir Setan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ILMU AGAMA DI RUMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (8): Pengajaran Anggota Keluarga&lt;br /&gt;Nasehat (9): Buatlah Perpustakaan di Rumahmu&lt;br /&gt;Nasehat (10): Perpustakaan Kaset di Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (11): Mengundang Orang-orang Shalih, Ulama dan para Penuntut Ilmu ke Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (12): Belajar Hukum-hukum Syariat tentang Rumah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASPEK SOSIAL Dl RUMAH&lt;br /&gt;Nasehat (13): Memberi Kesempatan untuk Mendiskusikan Persoalan-persoalan Keluarga&lt;br /&gt;Nasehat (14): Tidak Menampakkan Konflik Keluarga di depan Anak-anak&lt;br /&gt;Nasehat (15): Tidak Membolehkan Masuk Rumah kepada Orang yang Tidak Baik Agamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peringatan  &lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahakan Semampu Mungkin  untuk Lebih Banyak Berada di Rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (16): Teliti dalam Mengamati Keadaan Anggota Keluarga &lt;br /&gt;Nasehat (17): Perhatian terhadap Anak-anak di Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (18): Mengatur Waktu Tidur dan Makan&lt;br /&gt;Nasehat (19): Meluruskan Pekerjaan Wanita di Luar Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (20): Menjaga Rahasia Rumah Tangga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BEBERAPA AKHLAK DI RUMAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (21): Mentradisikan Pergaulan yang Baik (Keramahan) di Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (22): Membantu Anggota Keluarga dalam Pekerjaan Rumah &lt;br /&gt;Nasehat (23): Bersikap Lembut dan Bercanda dengan Keluarga &lt;br /&gt;Nasehat (24): Menyingkirkan Akhlak Buruk di Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (25): Gantungkanlah Cambuk shg Bisa Dilihat oleh Anggota Keluarga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN DALAM RUMAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (26): Waspada terhadap Masuknya Kerabat yang Bukan Mahram kepada Isteri yang Ada di Rumah ketika Suami sedang Tiada&lt;br /&gt;Nasehat (27): Memisahkan antara Laki-laki dengan Wanita dalam Acara Kunjungan  Silaturahim Keluarga &lt;br /&gt;Nasehat (28): Waspada terhadap Bahaya Sopir dan Pembantu diRumah&lt;br /&gt;Nasehat (29): Keluarkanlah Orang yang Bersikap Kebanci-bancian dari  Rumahmu&lt;br /&gt;Nasehat (30): Waspadalah-terhadap Bahaya Film&lt;br /&gt;Nasehat (31): Berhati-hati dari Kejahatan Telepon&lt;br /&gt;Nasehat (32): Wajib Menghilangkan setiap Identitas–Apapun Bentuknya - Agama Batil Orang-orang Kafir, Termasuk Sesembahan dan Tuhan Mereka&lt;br /&gt;Nasehat (33): Menghilangkan Gambar-gambar Makhluk Bernyawa&lt;br /&gt;Nasehat (34): Laranglah Merokok di Rumahmu &lt;br /&gt;Nasehat (35): Jangan Memelihara Anjing di Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (36): Menjauhi dari Menghias Rumah dengan Aneka Warna (Berlebih-lebihan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RUMAH DIPANDANG DARI DALAM DAN DARI LUAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (37) : Memilih Lokasi dan Desain Rumah Yang Tepat&lt;br /&gt;Nasehat (38): Memilih Tetangga sebelum Memilih Rumah&lt;br /&gt;Nasehat (39): Memperhatikan Perbaikan yang Perlu Serta Menyediakan Sarana Kenyamanan&lt;br /&gt;Nasehat (40): Memperhatikan Kesehatan Anggota Keluarga dan Pengobatannya &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;MUQADIMAH&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, kita memuji, memohon pertolongan, serta ampunanNya. &lt;br /&gt;Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu-nafsu kita dan dari kejahatan amal&lt;br /&gt;perbuatan kita. &lt;br /&gt;Barangsiapa yang ditunjuki oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tak seorangpun yang bisa menunjukinya. &lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba&lt;br /&gt;dan utusan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rumah Adalah Nikmat &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt; "Dan sesungguhnya Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal." (An-Nahl : 80) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan kesempurnaan nikmatNya atas hambaNya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. &lt;br /&gt;Mereka kembali kepadanya, berlindung dan memanfaatkannya dengan berbagai macam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;manfaat"1. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak sekali kegunaan rumah bagi seseorang. &lt;br /&gt;Ia adalah tempat makan, tidur, istirahat, dan berkumpul dengan keluarga, isteri dan anak-anak, juga tempat melakukan kegiatan yang paling pribadi dari masing-masing anggota keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Allah berfirman :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu". (Al-Ahzab :33) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jika kita renungkan keadaan orang-orang yang tidak memiliki rumah, yakni orang-orang yang hidup dipengasingan, di emper-emper jalan serta para pengungsi yang&lt;br /&gt;terusir di perkemahan-perkemahan sementara, niscaya kita memahami benar nikmatnya ada di rumah. &lt;br /&gt;Tentu kita akan terenyuh dan haru mendengar orang misalnya dia mengatakan : "Saya tidak punya tempat tinggal tetap, terkadang saya tidur di  rumah si Fulan, terkadang di kedai kopi, kebun atau di pantai, lemari bajuku ada di dalam mobil."Dengan demikian kitapun akan memahami makna keberserakan karena tidak memiliki tempat tinggal atau rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Allah menyiksa orang-orang Yahudi Bani Nadhir, Allah mengambil  dari mereka nikmat rumah ini, Allah mengusir mereka dari kampung halaman mereka. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Allah berfirman :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  "Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung pada saat pengusiran pertama kali."(Al-Hasyr:2) &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemudian firmanNya :&lt;/strong&gt;  "&lt;br /&gt;Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. &lt;br /&gt;Maka ambillah (kejadian itu) untuk pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan". (Al-Hasyr : 2)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yang Mendorong Seorang Muslim Memperhatikan ISHLAH (Perbaikan) Rumahnya :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Menjaga diri dan keluarga dari api Neraka jahannam dan selamat dari siksa yang menyala-nyala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Allah berfirman :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".(At-Tahrim : 6)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;2. Besarnya tanggung jawab yang dibebankan terhadap pemimpin rumah di hadapan Allah pada hari perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah Ta'ala akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Hasan, diriwayatkan oleh An-Nasa'i  dalam Isyratun Nisaa', hadits no 292 dan Ibnu Hibban dari Anas dalam Shahihul Jami' , no.1775; As-Silsilah Ash-  Shahihah&lt;br /&gt;no.1636. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah adalah tempat menjaga diri dan keselamatan dari berbagai kejahatan dan menolak dari bahaya manusia lain;&lt;br /&gt;- Rumah adalah tempat perlindungan ketika terjadi fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda :&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beruntunglah orang yang menguasai lisannya dan lapang rumahnya serta menangis atas kesalahannya." &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jamul  Ausath dari Tsauban dan terdapat dalam Shahihul Jami', no.3824. Dan beliau bersabda :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Lima hal yang barangsiapa mengerjakan salah satu daripadanya maka ia akan mendapat jaminan dari Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu: orang yang menjenguk orang sakit, orang yang pergi berperang, atau orang yang masuk kepada pemimpinnya dengan maksud menegurnya atau mengingatkannya, atau ia duduk dirumahnya sehingga orang-orang selamat dari (ganggguan)nya dan ia selamat dari (gangguan) mereka. Hadits riwayat Ahmad (5/241)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  "Keselamatan seseorang dalam fitnah yaitu ia senantiasa mendiami rumahnya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Musnadul Firdaus dari Abu Musa; terdapat dalam Shahihul jami'&lt;br /&gt;no.3543, dan lafazh dalam Sunan oleh Ibnu Abi 'Ashim,&lt;br /&gt;no.1021. Dalam takhrij ia mengatakan : "Hadits ini shahih". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang muslim akan merasakan faedah ini ketika ia dalam keadaan terasing, saat ia tidak bisa mengubah kemungkaran-kemungkaran yang ada, maka dia memiliki tempat&lt;br /&gt;berlindung ketika kembali ke rumahnya. &lt;br /&gt;Rumah itu akan menjaga dirinya dari perbuatan dan pandangan yang dilarang, menjaga isterinya dari tabarruj (pamer kecantikan dan hiasan) serta menjaga anak-anaknya dari teman-teman yang jahat. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1.Sesungguhnya sebagian besar manusia menggunakan waktunya di dalam rumah, terutama pada musim panas dan dingin yang menyengat, pada musim hujan, permulaan dan akhir siang, ketika selesai dari kerja atau sekolah, karena waktu-waktu tersebut semestinya digunakan dalam ketaatan, jika tidak tentu akan habis untuk melakukan hal-hal yang dilarang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;2.Ini yang terpenting, bahwa perhatian terhadap rumah merupakan sarana yang paling besar untuk membangun masyarakat muslim. Karena sebuah masyarakat ini terdiri dari rumah-rumah. Rumah-rumah adalah unsur dasar suatu masyarakat. Rumah-rumah itu membentuk suatu perkampungan dan perkampungan perkampungan itu adalah masyarakat. &lt;br /&gt;Jika unsur dasarnya baik, niscaya  akan kuatlah masyarakat kita dengan hukum-hukum Allah, tegar dalam menghadapi musuh-musuh Allah, memancarkan kebaikan dan tidak menimbulkan kejahatan. &lt;br /&gt;Dari sebuah rumah yang Islami akan lahir penopang-penopang perbaikan bagi masyarakat, berupa da'i-da'i teladan, penuntut ilmu, mujahid yang sesungguhnya,  isteri shalihah, ibu pendidik dari unsur pembangun kebaikan lainnya. &lt;br /&gt;Jika sedemikian penting problem tersebut, sementara rumah-rumah kita  penuh dengan kemungkaran dan kelalaian, meremehkan dan melampaui batas, maka dari sini timbul tanda tanya besar:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;APA SARANA-SARANA UNTUK MEMPERBAIKI  RUMAH? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pembaca, penulis suguhkan jawabannya,&lt;br /&gt;nasehat-nasehat dalam persoalan ini, mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada kita dengannya, dan mudah-mudahan Allah mengarahkan semangat putra-putri Islam untuk membawa risalah (tugas) perbaikan rumah Islami dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat ini dimaksudkan untuk dua hal, mendapatkan maslahat (kebaikan) yakni dengan amar ma'ruf atau  mencegah kerusakan yakni menghilangkan kemungkaran. Semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Tafsir Ibnu Katsir, cet. Daarusy Sya'bi,4/509&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MEMBANGUN RUMAH TANGGA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (1): Memilih Istri yang Tepat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. &lt;br /&gt;Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. &lt;br /&gt;Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (An-Nur: 32). &lt;br /&gt;Hendaknya seseorang memilih isteri shalihah dengan syarat-syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. &lt;br /&gt;Maka hendaknya engkau utamakan wanita yang memiliki agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu akan berdebu (miskin, merana)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 9/132.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah''. &lt;br /&gt;  Hadits riwayat Muslim (1468), cet. Abdul Baqi; dan riwayat An-Nasa'i   dari Ibnu Amr, Shahihul Jami', hadits no.3407&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Hendaklah salah seorang dari kamu memiliki hati yang bersyukur, lisan yang selalu dzikir dan isteri beriman yang menolongnya dalam persoalan akhirat".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Ahmad (5/282), At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsauban, Shahihul Jami', hadits no. 5231&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dan isteri shalihah yang menolongmu atas persoalan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik (harta) yang disimpan manusia".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab  dari Abu Umamah. Lihat Shahihul Jami', hadits no. 4285&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kawinilah perempuan yang penuh cinta dan yang subur peranakannya. Sesungguhnya aku membanggakan dengan banyaknya jumlah kalian di antara para nabi pada hari Kiamat." &lt;br /&gt;Hadits riwayat Imam Ahmad (3/245), dari Anas. Dikatakan dalam Irwa 'ul Ghalil, "Hadits ini shahih", 6/195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "(Nikahilah) gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih banyak keturunannya, lebih manis tutur katanya dan lebih menerima dengan sedikit (qana'ah)". &lt;br /&gt;Hadits riwayat lbnu Majah, No. 1861 dan alam As-Silsilah Ash-Shahihah, hadits No. 623&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan : &lt;br /&gt;"Lebih sedikit tipu dayanya".&lt;br /&gt;Sebagaimana wanita shalihah adalah salah satu dari empat sebab kebahagiaan maka sebaliknya wanita yang tidak shalihah adalah salah satu dari empat penyebab sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tersebut dalam hadits shahih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang&lt;br /&gt;apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu" &lt;br /&gt;Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya, dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, hadits no. 282&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, perlu memperhatikan dengan seksama keadaan orang yang meminang wanita muslimah tersebut, baru mengabulkannya setelah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Jika datang kepadamu seseorang yang engkau rela terhadap akhlak dan agamanya maka nikahkanlah, jika tidak kamu lakukan niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Ibnu Majah 1967, dalam As-Silsilah Ash-Shahihah,  hadits no. 1022&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal di atas perlu dilakukan dengan misalnya bertanya, melakukan penelitian, mencari informasi dan sumber-sumber berita terpercaya agar tidak merusak dan menghancurkan rumah tangga yang bersangkutan." &lt;br /&gt;Laki-laki shalih dengan wanita shalihah akan mampu membangun rumah tangga yang baik, sebab negeri yang baik akan keluar tanamannya dengan izin Tuhannya, sedang negeri yang buruk tidak akan keluar tanaman daripadanya kecuali&lt;br /&gt;dengan susah payah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nasehat (2): Upaya Membentuk (Memperbaiki) Isteri. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila isteri adalah wanita shalihah maka inilah kenikmatan serta anugerah besar dari Allah Ta'ala. &lt;br /&gt;Jika tidak demikian, maka kewajiban kepala rumah tangga adalah mengupayakan perbaikan. &lt;br /&gt;Hal itu bisa terjadi karena beberapa keadaan. &lt;br /&gt;Misalnya, sejak semula ia memang menikah dengan wanita yang sama sekali tidak memiliki agama, karena laki-laki tersebut dulunya, memang tidak memperdulikan persoalan agama. &lt;br /&gt;Atau ia menikahi wanita tersebut dengan harapan kelak ia bisa memperbaikinya, atau karena tekanan keluarganya. &lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti ini ia harus benar-benar berusaha sepenuhnya sehingga bisa melakukan perbaikan. &lt;br /&gt;Suami juga harus memahami dan menghayati benar, bahwa persoalan hidayah (petunjuk) adalah hak Allah. &lt;br /&gt;Allah-lah yang memperbaiki. Dan di antara karunia Allah atas hambaNya Zakaria adalah sebagaimana difirmankan: &lt;br /&gt;"Dan Kami perbaiki isterinya". (Al-Anbiya': 90). &lt;br /&gt;Perbaikan itu baik berupa perbaikan fisik maupun agama.&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata:&lt;br /&gt; "Dahulunya, isteri Nabi Zakaria adalah mandul, tidak bisa melahirkan maka Allah menjadikannya bisa melahirkan". Atha' berkata: Sebelumnya, ia adalah panjang&lt;br /&gt;lidah, kemudian Allah memperbaikinya".   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beberapa Metode Memperbaiki Isteri:&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Memperhatikan dan meluruskan berbagai macam ibadahnya&lt;br /&gt;kepada Allah Ta'ala. Kupasan dalam masalah ini ada dalam&lt;br /&gt;pembahasan berikutnya. &lt;br /&gt;2.Upaya meningkatkan keimanannya, misalnya: &lt;br /&gt;a.Menganjurkannya bangun malam untuk shalat  tahajjud &lt;br /&gt;b.Membaca Al Qur'anul Karim. &lt;br /&gt;c.Menghafalkan dzikir dan do'a pada waktu dan kesempatan&lt;br /&gt;tertentu. &lt;br /&gt;d.Menganjurkannya melakukan banyak sedekah. &lt;br /&gt;e.Membaca buku-buku Islami yang bermanfaat. &lt;br /&gt;f.Mendengar rekaman kaset yang bermanfaat, baik     dalam&lt;br /&gt;soal keimanan maupun    ilmiah dan terus mengupayakan&lt;br /&gt;tambahan koleksi kaset yang sejenis. &lt;br /&gt;g.Memilihkan teman-teman wanita shalihah baginya sehingga&lt;br /&gt;bisa menjalin ukhuwah yang kuat, saling bertukar pikiran&lt;br /&gt;dalam masalah-masalah agama serta saling mengunjungi untuk&lt;br /&gt; tujuan yang baik. &lt;br /&gt;h.Menjauhkannya dari segala keburukan dan pintu-pintunya.&lt;br /&gt;Misalnya dengan menjauhkannya dari &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;ASPEK KEIMANAN DI RUMAH &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (3): Jadikanlah Rumah sebagai Tempat Dzikrullah&lt;br /&gt;(Mengingat Allah). &lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah, dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah (laksana) perumpamaan antara yang hidup dengan yang mati".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Muslim dan Abu Musa 1/539, cet. Abdul Baqi Karena itu rumah harus dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai macam dzikir, baik itu dzikir dalam hati maupun dengan lisan, shalat, atau membaca shalawat dan Al-Qur'an, atau mempelajari ilmu-ilmu  agama, atau membaca buku-buku lain yang bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini betapa banyak rumah-rumah umat Islam yang mati karena tidak ada dzikrullah di dalamnya, sebagaimana disebutkan oleh hadits di atas. &lt;br /&gt;Dan apatah lagi manakala  yang menjadi dendangan di dalam rumah itu adalah&lt;br /&gt;syair-syair dan lagu-lagu setan, menggunjing, berdusta dan mengadu domba? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi jika rumah-rumah itu penuh dengan kemaksiatan dari kemungkaran, seperti ikhtilath (campur baur dengan lawan jenis) yang diharamkan, tabarruj (pamer kecantikan dan perhiasan) di antara kerabat yang bukan mahram atau kepada tetangga yang masuk ke rumah? &lt;br /&gt;Bagaimana mungkin malaikat akan masuk ke dalam rumah dengan keadaan seperti itu? Karena itu hidupkanlah rumahmu dengan dzikrullah! Mudah-mudahan Allah merahmatimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nasehat (4): Jadikan Rumahmu sebagai Kiblat. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, menjadikan rumah sebagai tempat beribadah.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu sebagai kiblat dan dirikanlah shalat serta gembirakanlah&lt;br /&gt;orang-orang yang beriman". (Yunus: 87). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata: &lt;br /&gt;"Maksud disuruh menjadikan rumah-rumah mereka sebagai kiblat yaitu mereka diperintahkan menjadikan rumah-rumah itu sebagai masjid-masjid (tempat beribadah)". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata:&lt;br /&gt; "Hal ini seakan-akan - Wallahu a'lam - ketika siksaan dan tekanan Fir'aun beserta kaumnya semakin menjadi-jadi atas mereka, maka mereka disuruh untuk  memperbanyak shalat sebagaimana firman Allah Ta'ala :&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu".(Al-Baqarah: 153). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menghadapi suatu kesulitan, maka beliau melakukan shalat".  Tafsir Ibnu Katsir, 4/224. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menegaskan betapa pentingnya ibadah di dalam rumah-rumah,terutama dalam waktu-waktu lemah dan tertindas, demikian pula dalam beberapa kesempatan manakala umat Islam tidak mampu menampakkan shalat mereka di hadapan orang-orang  kafir. &lt;br /&gt;Dalam hal ini kita juga perlu mengenang kembali mihrab Maryam, yakni tempat peribadatan beliau, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;"Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab ia dapati makanan di sisinya". (Ali lmran : 37) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat  juga amat memperhatikan masalah shalat di dalam rumah mereka selain shalat fardhu. Sebuah kisah dibawah ini menarik sebagai pelajaran bagi kita :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Mahmud bin Ar-Rabi' Al-Anshari, bahwasanya Itban bin Malik - dia adalah  salah seorang Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam yang ikut serta dalam perang&lt;br /&gt;Badar,  dari kaum Anshar - ia datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam lalu berkata: &lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah!, pandanganku telah menipu tapi aku tetap shalat bersama  kaumku, apabila turun hujan, mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara aku dengan mereka sehingga aku (tak) bisa datang ke masjid mereka dan shalat&lt;br /&gt;bersama-sama, aku sangat ingin wahai Rasulullah, jika engkau datang kepadaku dan shalat di dalam rumahku sehingga aku menjadikannya sebagai mushalla (tempat shalat)". &lt;br /&gt;Ia berkata: &lt;br /&gt;"Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda kepadanya: &lt;br /&gt;"Akan aku lakukan Insya Allah"." Itban berkata: "Maka berangkatlah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dan Abu Bakar ketika siang (nampak) meninggi, maka&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam meminta izin, lalu aku mengizinkan kepada beliau, beliau tidak duduk sebelum masuk ke dalam rumah lalu beliau berkata: &lt;br /&gt;"Di bagian mana engkau suka aku melakukan shalat dari rumahmu?" . &lt;br /&gt;"Ia berkata: &lt;br /&gt;"Maka aku tunjukkan kepada beliau suatu arah dari rumahku, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam berdiri kemudian bertakbir, lalu kami semua berdiri membentuk barisan, dan Nabi Shallallahu alaihi wasalam shalat dua rakaat kemudian salam". &lt;br /&gt;Dalam memetik pelajaran dari hadits di atas, Ibnu Hajar berkata: &lt;br /&gt;"Di situ merupakan pelajaran, agar kita menggunakan tempat tertentu untuk melakukan shalat dalam rumah. &lt;br /&gt;Adapun larangan untuk menjadikan tempat tertentu dalam masjid adalah hadits Abu Daud, dan itu jika ia lakukan untuk riya' atau yang sejenisnya. Menjadikan tempat tertentu dalam rumah untuk shalat bukan berarti menjadikan tempat tersebut sebagai wakaf - tidak berlaku padanya hukum wakaf - meski secara umum dikategorikan dengan nama masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nasehat (5): Pendidikan Keimanan untuk Anggota Keluarga. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiallahu anha ia berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suatu ketika Rasullah Shallallahu alaihi wasalam, mengerjakan shalat malam, ketika akan witir beliau mengatakan: &lt;br /&gt;"Bangunlah, dan dirikanlah shalat witir wahai Aisyah!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah mengasihi laki-laki yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya sehingga shalat, jika tidak mau ia memerciki wajahnya dengan air".&lt;br /&gt;  Hadits riwayat Muslim, Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi, 6/23 Membiasakan dan menganjurkan para isteri dengan sedekah adalah sesuatu yang bisa menambah iman, ia adalah perkara agung yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi&lt;br /&gt;wasalam dengan sabdanya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Wahai segenap wanita, bersedekahlah kalian. Sesungguhnya aku melihat bahwa kalian adalah sebanyak-banyak penduduk Neraka".&lt;br /&gt;  Hadits riwayat Ahmad dan Abu Daud; Shahihul jami' ,&lt;br /&gt;hadits no.3488 &lt;br /&gt;Di antara ide yang bagus adalah dengan meletakkan kotak amal di dalam rumah untuk orang-orang miskin, sehingga setiap uang yang masuk di dalamnya menjadi hak bagi orang-orang yang membutuhkannya, karena itulah tempat dana mereka di dalam rumah orang muslim. Jika anggota keluarga melihat seorang panutan yang membiasakan puasa pada ayyaamul biidh (pertengahan setiap bulan Qamariyah, yaitu&lt;br /&gt;tanggal 13, 14, 15), hari Senin dan Kamis, hari Asyura, hari Arafah, pada banyak hari di bulan Muharram dan Sya'ban, niscaya akan mendorong anggota keluarga yang lain&lt;br /&gt;untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;Nasehat (6): Perhatian pada Do'a-do'a yang Disyari'atkan dan Sunnah-sunnah yang Berkaitan dengan Rumah. &lt;br /&gt;Di antara contohnya yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Do'a masuk rumah&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan, bahwasanya&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Jika seorang laki-laki masuk ke dalam rumahnya kemudian menyebut nama Allah Ta'ala ketika dia masuk dan ketika makan, setan berkata: "Kamu tidak punya (jatah)  tempat tidur dan tidak pula (jatah) makan di sini". &lt;br /&gt;Dan jika ia masuk dan tidak menyebut nama Allah ketika  ia masuk, maka setan berkata: "Kamu mendapatkan (jatah) tempat tidur". &lt;br /&gt;Dan jika tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata:&lt;br /&gt;"Kamu mendapat (jatah) tempat tidur dan makan"." Hadits riwayat Imam Ahmad, Al-Musnad, 3/346 dan Muslim,3/1599 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Do'a keluar rumah:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan, Abu Daud meriwayatkan bahwasanya Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya kemudian mengatakan: "Dengan Nama Allah, aku bertawakkal (menggantungkan diri) kepada Allah, tidak ada daya dan&lt;br /&gt; kekuatan  kecuali dengan pertolongan Allah", niscaya akan dikatakan kepadanya: &lt;br /&gt;"Cukuplah bagimu, engkau telah diberi petunjuk, engkau telah dicukupi dan dijaga ", sehingga setan menyingkir daripadanya. Lalu setan lain berkata kepadanya: &lt;br /&gt;"Bagaimana kamu dapat (menggoda) laki-laki yang telah ditunjuki, dicukupi dan dijaga?"." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits riwayat Abu Daud no. 5095, At-Tirmidzi No. 3426.&lt;br /&gt;Dalam  Shahihul Jami', hadits no. 499. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siwak: &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallah 'anha,  bahwasanya ia berkata: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika masuk rumahnya beliau memulai dengan siwak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah, bab 15, no. 44. &lt;br /&gt;Nasehat (7):Rutin Membaca Surat Al-Baqarah di Rumah untuk Mengusir Setan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits dalam hal ini di antaranya: &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan! Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah".&lt;br /&gt;Shahih Muslim, cet.Abdul Baqi, 1/539 &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Bacalah surat Al-Baqarah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya setan itu tidak masuk ke dalam rumah yang dibaca di dalamnya surat Al-Baqarah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits riwayat Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak,  1/561; dan dalam Shahihul Jami ', hadits no.1170 &lt;br /&gt;Tentang keutamaan dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah serta pengaruh membacanya bagi rumah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah Ta'ala menulis suatu kitab sebelum Ia menciptakan langit dan bumi sekitar 2000 tahun, Ia berada di atas Arsy, dan menurunkan dua ayat penutup (terakhir) dari surat Al-Baqarah. Dan tidaklah setan mendekat rumah yang dibacakan di dalamnya kedua ayat tersebut selama tiga malam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits riwayat Imam Ahmad di dalam As-Sunnah 4/274 dan selainnya; dalam Shahihul Jami' hadits no. 1799 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ILMU AGAMA DI RUMAH &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (8): &lt;br /&gt;Pengajaran Anggota Keluarga Mengajar adalah kewajiban yang mesti dilakukan oleh&lt;br /&gt;pemimpin keluarga, sebagai realisasi dari perintah Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu".(At-Tahrim : 6) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas merupakan dasar pengajaran dan pendidikan anggota keluarga, memerintah mereka dengan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini beberapa komentar ahli tafsir tentang ayat tersebut, yakni berkaitan dengan kewajiban yang dibebankan atas pemimpin keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qatadah berkata: &lt;br /&gt;"Dia hendaknya memerintah mereka berbuat taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala serta mencegah mereka dari maksiat kepadaNya, hendaknya menjaga mereka untuk&lt;br /&gt;melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan membantu mereka di dalamnya. Maka apabila kamu melihat kemaksiatan, hendaknya engkau menjauhkan mereka daripadanya dan memperingatkan untuk tidak melakukannya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adh-Dhahhak dan Muqatil berkata: &lt;br /&gt;"Merupakan kewajiban setiap muslim, mengajarkan keluarganya dari kerabat dan&lt;br /&gt;hamba sahayanya akan apa yang diwajibkan oleh Allah atas mereka dan apa yang dilarangNya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali radhiyallah 'anhu berkata: &lt;br /&gt;"Ajari dan didiklah mereka''. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kiya At-Thabari berkata: &lt;br /&gt;"Kita hendaknya mengajari anak-anak dan keluarga kita masalah agama dan kebaikan, serta apa-apa yang penting dan dibutuhkan dalam persoalan&lt;br /&gt;adab dan akhlak". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menganjurkan kita mengajari wanita-wanita hamba sahaya yakni bukan orang-orang merdeka, maka apa lagi halnya dengan anak-anakmu dan keluargamu yang merdeka?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari dalam Shahihnya, Bab Pengajaran Laki-laki terhadap Hamba Sahaya Perempuan dan Keluarganya, menulis hadits: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga orang yang mendapat dua pahala: ... dan seorang laki-laki yang memiliki hamba sahaya perempuan lalu ia mendidiknya dengan baik, mengajarinya dengan baik, kemudian ia memerdekakannya lalu menikahinya maka baginya dua pahala." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penjelasan hadits di atas, Ibnu Hajar mengatakan:&lt;br /&gt;"Kesesuaian hadits dengan tarjamah - maksudnya judul bab - dalam masalah hamba sahaya perempuan adalah dengan nash, dan dalam masalah keluarga dengan qiyas, sebab perhatian dengan keluarga yang merdeka dalam soal pengajaran kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh Allah dan sunnah-sunnah RasulNya adalah sesuatu yang harus dan pasti daripada perhatian kepada hamba sahaya perempuan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena adanya kesibukan dan tugas serta ikatan lainnya, seseorang terkadang melalaikan untuk meluangkan waktu bagi dirinya sehingga bisa mengajari   keluarganya. &lt;br /&gt;Diantara jalan pemecahan dalam persoalan ini yaitu hendaknya ia mengkhususkan satu hari dalam seminggu sebagai waktu untuk keluarga, bahkan mungkin juga dengan melibatkan kerabat lain untuk menyelenggarakan majlis ilmu di dalam rumah. Ia hendaknya mengumumkan hari tersebut kepada segenap anggota keluarga dan menganjurkan agar menepati dan datang pada hari yang ditentukan tersebut, bahkan akan lebih efektif dengan menggunakan kata-kata wajib datang, baik kepada&lt;br /&gt;dirinya maupun kepada anggota keluarga yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah apa yang terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari berkata: &lt;br /&gt;"Bab: Apakah bagi Wanita Disediakan Hari Khusus untuk Ilmu?" Lalu menyitir hadits Abu Said AI-Khudri radhiyallah 'anhu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Kami telah dikalahkan kaum laki-laki dalam berkhidmat kepadamu. Karena itu buatlah untuk kami suatu hari dari dirimu", lalu Rasulullah menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu dengan mereka, maka Rasulullah menasehati dan memerintah mereka". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: &lt;br /&gt;"Dalam riwayat Sahl bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah mirip dengan kisah ini, ia berkata; "Perjanjian kalian di rumah Fulanah, maka Rasulullah mendatangi mereka dan memberi ceramah kepada mereka". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits di atas kita bisa mengambil kesimpulan akan pentingnya pengajaran para wanita di rumah-rumah, dan mengingatkan pula betapa besar perhatian para sahabat&lt;br /&gt;wanita dalam masalah belajar, juga menunjukkan bahwa mengkonsentrasikan semangat mengajar hanya kepada laki-laki dengan meninggalkan kaum perempuan adalah kelalaian besar bagi para da'i dan pemimpin rumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pembaca mungkin berkata, misalnya, kita telah meluangkan waktu sehari dalam seminggu dan hal itu telah kita kabarkan kepada anggota keluarga, lalu apa yang akan kita berikan dalam pertemuan (majlis) tersebut? &lt;br /&gt;Dan bagaimana pula memulainya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut, Penulis mencoba memberikan ide dalam hal ini sehingga menjadi manhaj (program) sederhana untuk mengajar anggota keluarga secara umum dan bagi kaum wanita secara khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1.Tafsir Al-Allamah Ibnu Sa'di, yaitu Tafsir Taisirul Karim Ar-Rahman fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Terdiri dari&lt;br /&gt;tujuh jilid, sajian dan bahasannya mudah. Tafsir ini  bisa ditelaah dan dibaca  per surat atau semampunya dalam tiap kali pertemuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2.Riyaadhus Shaalihiin dengan komentar dan keteranganserta pelajaran yang bisa diambil dari tiap hadits. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini bisa merujuk pada kitab Nuzhatul Muttaqiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.Husnul Uswah Bimaa Tsabata Anillaahi Waraasuulihi Fin Niswah, karya Shiddiq Hasan Khan. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Juga penting untuk diajarkan kepada wanita beberapa persoalan hukum Fiqh, misalnya hukum bersuci, haid, hukum shalat dan zakat, puasa dan haji, jika mereka telah bisa melakukannya. Demikian pula hukum makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, sunnah-sunnah fithrah dan para mahram, hukum lagu, gambar dan sebagainya. &lt;br /&gt;Diantara rujukan-rujukan penting dalam masalah-masalah tersebut yaitu fatwa-fatwa para ulama seperti  Kumpulan Fatwa-fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan ulama lain selain mereka, baik itu&lt;br /&gt;berupa buku maupun rekaman kaset. &lt;br /&gt;Termasuk dalam kategori jadwal pengajaran wanita dan keluarga adalah dengan mengingatkan mereka untuk mengikuti berbagai ceramah umum yang disampaikan oleh para ulama, atau penuntut ilmu yang terpercaya di bidangnya, jika hal itu memungkinkan. &lt;br /&gt;Hal ini untuk  lebih banyak memberikan referensi dan sumber pengajaran, juga untuk variasi. &lt;br /&gt;Selain itu, jangan pula dilupakan masalah mendengarkan siaran bacaan Al-Qur'anul Karim serta menaruh perhatian kepadanya.&lt;br /&gt;Termasuk dalam rangka penyediaan sarana pengajaran adalah mengingatkan anggota keluarga pada hari-hari tertentu agar para wanitanya menghadiri pameran buku-buku Islami, tetapi dengan memperhatikan syarat-syarat bepergian yang telah&lt;br /&gt;diatur agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasehat (9): Buatlah Perpustakaan di Rumahmu. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara yang membantu proses pengajaran bagi keluarga adalah pemberian kesempatan belajar agama dan menolong mereka untuk mentaati hukum-hukum syari'at dengan membuat perpustakaan Islami di rumah, tidak harus besar, tetapi&lt;br /&gt;yang penting bisa menyeleksi buku-buku penting, menempatkannya di tempat yang gampang diambil, dan menganjurkan anggota keluarga untuk membacanya. &lt;br /&gt;Hendaknya di ruang dalam disediakan kamar yang bersih dan tertib, cocok untuk meletakkan buku-buku, di kamar tidur, juga di ruang tamu, sehingga memberi kesempatan kepada anggota keluarga membaca buku dengan teratur. &lt;br /&gt;Diantara perpustakaan yang baik dan efisien - dan sungguh Allah menyukai yang baik dan efisien - adalah hendaknya perpustakaan itu memuat sumber-sumber yang daripadanya bisa dicari pembahasan dan pemecahan berbagai persoalan, bermanfaat untuk anak-anak di sekolah, dan hendaknya pula memuat buku-buku untuk tingkatan yang beragam, juga buku-buku yang cocok untuk orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan. &lt;br /&gt;Jika mampu, bisa pula disediakan buku-buku khusus hadiah bagi tamu dan kawan anak-anak serta pengunjung keluarga, dengan memperhatikan soal cetakan yang menarik, buku yang telah diteliti dan diedit, serta hadits-haditsnya telah diperiksa dan diterangkan secara jelas. &lt;br /&gt;Untuk mendirikan perpustakaan rumah, bila perlu dengan memanfaatkan pameran buku-buku setelah  meminta pertimbangan terlebih dahulu kepada orang yang ahli di&lt;br /&gt;bidang perbukuan. &lt;br /&gt;Diantara yang membantu memudahkan mencari buku-buku yaitu dengan menertibkan buku-buku sesuai judulnya. &lt;br /&gt;Misalnya buku tafsir di rak tersendiri, demikian pula hadits, fiqh dan&lt;br /&gt;seterusnya. &lt;br /&gt;Salah seorang anggota keluarga hendaknya ada yang menata daftar buku sesuai dengan abjad dan judul, sehingga akan memudahkan pencarian buku, sebab terkadang banyak orang yang senang membaca buku-buku keislaman menanyakan&lt;br /&gt;nama-nama buku tersebut pada perpustakaan rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini ada beberapa usulan dalam masalah buku-buku penting bagi perpustakaan rumah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tafsir: &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tafsir lbnu Katsir, Tafsir lbnu Sa'di, Zubdatut Tafsir karya Al-Asyqar, Ushulut Tafsir karya Ibnu Utsaimin, dan Lamahaat fii Uluumil Qur'an karya Muhammad Ash-Shabbagh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hadits:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Shahihul Kalimith Thayyib, Amalul Muslimi fil Yaum wal Lailah, Riyadhush Shalihin dan keterangannya, Nuzhatul Muttaqin, Mukhtashar Shahih Al-Bukhari karya Zubaidi,&lt;br /&gt;Mukhtashar Shahih Muslim karya Mundziri dan Al-Albani, Shahihul Jami' Ash-Shaghier, Dha'iful Jami' Ash-Shaghier, Shahihut Targhib wat Tarhib, As-Sunnah wa Makaanatuha fit Tasyrii', Qawa'id wa Fawa'id Minal Arba'in An-Nawawiyyah&lt;br /&gt;karya Nazhim Sulthan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aqidah:&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathul Majid Syarhu KitabAt-Tauhid dengan tahqiq Arna'uth, A'laamus Sunnah Al-Mansyurah karya Al Hakamy,Ma'arijul Qabuul karya Al—Hakamy, Syarhul Aqidah Ath-Thahawiyah dengan tahqiq Al-Albani, Silsilatul Aqidah karya Umar Sulaiman Al-Asyqar (8 ]uz), Asyraatus Saa'ah karya Dr.Yusuf Al-Wabil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Fiqh&lt;/em&gt;: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manaarus Sabil karya Ibnu Dhauyan, Irwaa'ul Ghalil karya Al-Albani, Zaadul Ma'aad, Al-Mughni karya lbnu Qudamah, Fiqhus Sunnah, Al-Mulakhkhashul Fiqhi karya Shalih Fauzan, Majmu'atu Fataawa Al-Ulama (Abdul Aziz bin Baaz, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Abdullah bin Jibrin), Shifatu Shalatin Nabi karya Al-Albani dan Syaikh&lt;br /&gt;Abdul Aziz bin Baaz, Mukhtashar Ahkamil Jana'iz karya Al-Albani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Akhlaq dan Penyucian Jiwa:&lt;/em&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahdzibu Madarijis  Salikin, Al-Fawa'id, Al-Jawabul Kaafi, Thariqul Hijratain Wa Baabus&lt;br /&gt;Sa'adatain, Al-Wabilush Shayyib Wa Rafi'ul Kalimith Thayyib karya Ibnul Qayyim, Lathaa'iful Ma'aarif karya lbnu Rajab, Tahdzibu Mau'idhatil Mukminin, Ghidza'ul Albab. &lt;br /&gt;Sejarah dan Biografi: Al-Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Mukhtashar Asy-Syamaa'il Al Muhammadiyyah karya At-Turmudzi, Ar-Rahiiqul Makhtum, Al- 'Awaashim minal Qawaashim karya Ibnul Arabi tahqiq Al-Khatib dan Al-Istanbuli, Al-Mujtama' Al- Madani (1-2) karya Akram Al-Umari, Siyaru  A'laamin Nubala', Manhaju Kitaabit Tarikh&lt;br /&gt;Al-lslami karya Muhammad bin Shamil As-Salami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, masih banyak lagi kitab-kitab di bidang lain. &lt;br /&gt;Misalnya kitab-kitab karya Imam Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kitab-kitab karya Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. &lt;br /&gt;Juga kitab-kitab Umar bin Sulaiman Al-Asyqar, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail Al-Muqaddam, Ustadz Muhammad Muhammad Husein, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Ustadz Husain Uwaisyah dalam Raqa'iq, Kitabul Iman karya Muhammad Na'im&lt;br /&gt;Yasin, Al-Wala' wal Bara' karya Syaikh Muhammad Said Al-Qahthani, Al-Inhiraafaat Al-Aqadiyah fil Qarnain Ats-Tsani Asyar wats Tsalits Asyar karya Ali Az-Zahrani, Al-Muslimun Wa Dhahiratul Hazimah An-Nafsiyah karya Abdullah Asy-Syabanah, Al-Mar'ah Bainal Fiqhi Wal Qaanun karya  Musthafa As-Siba'i, Al-UsratuI Muslimah Amamal&lt;br /&gt;Fiidiyu Wal Tilifiziyun karya Marwan Kack, Al-Mar'atul Muslimah  I'daaduha Wa Mas'uuliyatuha karya Ahmad Ababathin, Mas'uuliyatul Ab Al-Muslim fii Tarbiyati&lt;br /&gt;Waladihi karya Adnan Baharits, Hijaabul Muslimah karya Ahmad Al-Barazi, Wajaa 'a Daurul Majuus karya Abdullah Muhammad Al-Gharib, juga buku-buku karya Syaikh Bakar Abu Zaid dan  Ustadz Masyhur Hasan Salman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu masih banyak lagi buku-buku yang bermanfaat. &lt;br /&gt;Apa yang kami sebutkan di atas hanyalah sebagai contoh, tidakberarti kami membatasi. Di samping itu, saat ini telah pula merebak kecenderungan buku-buku kecil dan praktis yang banyak bermanfaat. Kalau kita catat di sini, tentu tak&lt;br /&gt;memungkinkan, karena itu masing-masing hendaknya meminta pendapat orang ahli dan teliti dalam menyeleksinya. &lt;br /&gt;Dan sungguh, barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya Ia akan pahamkan orang tersebut dalam masalah agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasehat :10, Menyediakan kaset di rumah &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tape Recorder di dalam rumah bisa berfungsi baik atau jelek. Bagaimana menjadikan penggunaannya diridhai oleh Allah ? &lt;br /&gt;Diantara sarana untuk itu adalah menjadikan koleksi kaset yang ada di dalam rumah merupakan kaset-kaset Islami dan baik. &lt;br /&gt;Yakni rekaman dari para ulama, pembaca Al-Qur'an (qari' ), penceramah, pemberi nasehat, khatib dll. &lt;br /&gt;Sungguh, mendengarkan kaset bacaan Al-Qur'an yang khusyu' dari suara sebagian imam shalat tarawih misalnya, memiliki pengaruh besar bagi keluarga di rumah. &lt;br /&gt;Baik itu pengaruh dari makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an maupun pengaruh terhadap hafalan mereka, karena senantiasa memperdengarkannya kembali, juga pengaruh segi penjagaannya dari pendengaran setan seperti lagu-lagu, sebab telinga dan hati tidak cocok untuk bercampur di dalamnya kalamullah dan&lt;br /&gt;lagu-lagu setan. &lt;br /&gt;Betapa banyak kaset-kaset fatwa yang memberikan pengaruh dalam pemahaman fiqh anggota keluarga dalam berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari dalam kehidupan mereka. &lt;br /&gt;Di antara yang digagaskan dalam masalah ini yaitu mendengarkan  fatwa-fatwa rekaman dari para ulama seperti fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad&lt;br /&gt;Nashiruddin Al-Albani,, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, Syaikh Shalih Al-Fauzan dan lain-lain dari ulama yang terpercaya keilmuan dan agamanya. &lt;br /&gt;Umat Islam hendaknya memperhatikan dari mana ia mengambil fatwa agama, karena ini adalah urusan agama. &lt;br /&gt;Karena itu, lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu. Kita hendaknya mengambil agama dari orang yang telah dikenal keshalihan dan takwa serta wara'nya, bersandar kepada hadits-hadits shahih dan tidak ta'ashub madzhab, berkata  sesuai dengan dalil, konsisten dengan manhaj wasath (pertengahan), tidak terlalu ekstrim dan memberatkan, atau terlalu longgar dan mempermudah, dan dia adalah orang yang mengetahui (khabir) terhadap apa yang kita tanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;"(Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia". (Al-Furqan: 59). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan penceramah yang berdakwah menyadarkan umat, menegakkan dalil dan kebenaran serta menolak kemungkaran adalah sesuatu yang amat penting dalam pembangunan pribadi di dalam rumah tangga muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kaset-kaset para ulama itu sangat banyak jumlahnya. &lt;br /&gt;Tetapi yang penting, setiap muslim harus mengetahui ciri-ciri manhaj (metode) yang benar  bagi seorang penceramah sehingga kaset-kasetnya perlu didengarkan dan yang mendengarkan aman karenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di antara ciri-ciri itu adalah: &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Penceramah itu harus berada diatas aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, setia kepada sunnah dan meninggalkan bid'ah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Hendaknya ia bersandarkan pada hadits-hadits shahih dan menghindari hadits-hadits dha'if dan palsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Hendaknya ia jeli dan peka dengan kondisi sosial masyarakat serta apa yang mereka alami. Ia harus bisa meletakkan obat tepat pada penyakit. Menyampaikan kepada manusia apa yang bermanfaat dan sangat mereka butuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Hendaknya ia berani menyampaikan kebenaran sesuai dengan kemampuannya dan tidak berbicara dengan batil. Kaset-kaset itu perlu diletakkan di laci dengan tertib&lt;br /&gt;sehingga gampang diambil, juga akan menjaga kaset tersebut dari hilang, rusak, atau dibuat mainan anak-anak. Kaset-kaset yang baik hendaknya kita usahakan untuk disebarkan melalui peminjaman atau menghadiahkannya untuk&lt;br /&gt;orang lain.  Dalam pemanfaatan tape recorder ini, adalah baik dengan meletakkan alat tersebut di dapur sehingga akan memberi manfaat kepada ibu rumah tangga, juga di kamar  tidur untuk bisa memanfaatkan waktu hingga saat terakhir menjelang kita tidur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasehat (11): Mengundang Orang-orang Shalih, Ulama,  dan para Penuntut Ilmu ke Rumah. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Ta'ala :&lt;br /&gt;"Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu-bapakku, orang-orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain&lt;br /&gt;kebinasaan". (Nuh :28). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh masuknya orang-orang beriman dapat menambah cahaya bagi rumahmu. Di samping itu, mengadakan pembicaraan, bertanya dan berdiskusi dengan mereka akan mendatangkan banyak sekali manfaat. &lt;br /&gt;Orang yang membawa kesturi mungkin akan memberikannya padamu, atau engkau membeli daripadanya, atau minimal engkau akan dapati daripadanya bau wangi semerbak. &lt;br /&gt;Dengan kedatangan mereka, tentu ayah, saudara dan anak-anak ada yang ikut menyambutnya, sedang para wanita akan mendengarkannya dari balik hijab tentang apa yang mereka perbincangkan. &lt;br /&gt;Hal itu adalah pendidikan bagi semua. Jika engkau memasukkan suatu kebaikan maka engkau telah menolak masuknya sesuatu yang jelek dan kehancuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasehat (12): Belajar Hukum-hukum Syari'at tentang Rumah. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya: &lt;br /&gt;Shalat di rumah. &lt;br /&gt;Tentang shalat laki-laki, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sebaik-baik shalat laki-laki adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun shalat-shalat wajib tersebut maka wajib dilakukan di masjid, kecuali ada udzur. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Shalat tathawwu' (sunnah) laki-laki di rumahnya melebihi (pahala) amalan tathawwu' di hadapan manusia, sebagaimana keutamaan shalat seorang laki-laki secara berjama'ah dengan shalatnya sendirian". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bagi wanita, semakin ke dalam tempat shalatnya dari bagian rumahnya maka semakin utama. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sebaik-baik shalat kaum wanita yaitu di bagian paling dalam dari rumahnya". &lt;br /&gt;Agar orang lain tidak menjadi imam di rumahnya, dan tidak boleh duduk seseorang di tempat yang biasa diduduki oleh pemilik rumah kecuali dengan izinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Tidak boleh seorang laki-laki diimami di wilayah kekuasaannya, dan tidak diduduki atas kemuliannya (tempat duduknya) di rumahnya kecuali dengan izinnya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, tidak boleh maju untuk menjadi imam atas tuan rumah, meski sebetulnya orang lain lebih baik bacaannya daripadanya, atau orang yang memiliki kekuasaan seperti tuan rumah atau imam tetap masjid. Demikian pula seseorang tidak boleh duduk di tempat khusus tuan rumah baik itu kursi atau kasur kecuali dengan izinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta  izin dan memberi salam kepada penghuninya. &lt;br /&gt;Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. &lt;br /&gt;Dan jika  dikatakan kepadamu:"Kembali (sajalah)", maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".&lt;br /&gt;(An-Nur: 27-28). &lt;br /&gt;"Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya". (Al-Baqarah: 189). &lt;br /&gt; Boleh masuk ke dalam rumah kosong (yang tidak berpenghuni)&lt;br /&gt;dengan tanpa izin manakala orang yang masuk tersebut memiliki barang di dalamnya, misalnya rumah yang diperuntukkan bagi tamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan".  (An-Nur : 29). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengapa makan di rumah kerabat dan rumah teman-teman serta di rumah orang lain yang kita memiliki kuncinya, jika mereka tidak membenci hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di&lt;br /&gt;rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. &lt;br /&gt;Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau&lt;br /&gt;sendirian...". (An-Nur: 61). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melarang anak-anak dan pembantu masuk ke dalam kamar tidur ibu bapak, tanpa izin, pada waktu-waktu istirahat (tidur). &lt;br /&gt;Yaitu sebelum shalat subuh, waktu tidur siang, setelah shalat Isya', karena ditakutkan pandangan mereka akan&lt;br /&gt;tertumbuk pada pemandangan yang tidak sesuai, jika melihat sesuatu tanpa sengaja pada selain waktu-waktu tersebut maka hal itu bisa ditolerir (dimaafkan). &lt;br /&gt;Sebab mereka adalah orang-orang yang bercampur di satu rumah dan melayani&lt;br /&gt;sehingga sulit untuk menghindari hal tersebut. &lt;br /&gt;Allah berfirman: &lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman,  hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: sebelum shalat  shubuh, ketika kamu  menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat lsya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu.&lt;br /&gt;Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain).&lt;br /&gt;Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (An-Nur  58). &lt;br /&gt;Dilarang mengintip rumah orang lain, tanpa izin mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Barangsiapa mengintip rumah kaum (orang) lain tanpa izin, kemudian mereka mencongkel matanya, maka baginya tidak ada diyat dan tidak pula qishash". &lt;br /&gt;  Wanita yang ditalak tidak boleh keluar atau dikeluarkan dari rumahnya selama waktu iddah (menunggu) dengan memberikan infak kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; "Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. &lt;br /&gt;Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah maka sesungguhnya dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. &lt;br /&gt;Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu&lt;br /&gt;hal yang baru". (Ath-Thalaq: 1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh bagi laki-laki memisahkan (meninggalkan) isteri yang durhaka di dalam atau di luar rumah, sesuai dengan maslahat menurut agama. &lt;br /&gt;Adapun memisahkan diri dari isteri di dalam rumah, dalilnya&lt;br /&gt;firman Allah :&lt;br /&gt;"Dan pisahkanlah diri dari di tempat tidur mereka".(An-Nisa': 34). &lt;br /&gt;Adapun dasar memisahkan diri dari isteri di luar rumah adalah seperti yang terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam ,ketika beliau memisahkan diri&lt;br /&gt;dari isteri-isteri beliau di dalam kamar-kamar mereka, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam mengasingkan diri di luar rumah isteri-isteri beliau. Tidak menginap di rumah sendirian. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dari Ibnu Umar radhiyallah 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  melarang menyendiri, yakni seorang laki-laki menginap atau bepergian sendirian". &lt;br /&gt;Larangan itu disebabkan karena dengan sendirian ditakutkan akan terjadi sesuatu. Misalnya serangan musuh, pencuri, atau sakit. Adanya teman yang mendampinginya akan menolak keinginan musuh atau pencuri menyerangnya, juga akan membantunya jika dia jatuh sakit. Tidak tidur di lantai atas yang tidak memiliki pagar, agar tidak jatuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Barangsiapa tidur di loteng rumah yang tidak memiliki batu (penghalang, pagar), maka sungguh aku telah lepas tanggung jawab daripadanya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab orang yang tidur, terkadang - dengan tidak sadar - berguling-guling dalam tidurnya. Jika ia  tidur  di  lantai atas/atap  rumah yang tidak memiliki pagar atau pembatas yang menghalanginya, bisa jadi ia akan jatuh ke bawah yang&lt;br /&gt;menyebabkannya meninggal dunia. &lt;br /&gt;Jika hal itu terjadi,maka tak seorangpun yang berdosa karena kematiannya, semua lepas dari tanggung jawab atas kematian orang tersebut. &lt;br /&gt;Di samping hal itu juga menyebabkan pelecehannya terhadap penjagaan Allah padanya, sebab ia tidak mengambil langkah ikhtiar dan sebab. &lt;br /&gt;Kucing-kucing piaraan  tidak menjadikan najis bejana, bila kucing tersebut  minum atau makan daripadanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dari Abdullah bin Abi Qatadah, dari ayahnya, bahwasanya diletakkan untuknya bejana yang berisi air, lalu seekor kucing menjilat ke dalamnya, ia (tetap) melakukan wudhu.&lt;br /&gt;Mereka berkata: &lt;br /&gt;"Hai Abu Qatadah, bejana itu telah dijilat oleh kucing". Ia menjawab: "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;"Kucing termasuk di antara anggota keluarga, dan ia termasuk di antara yang&lt;br /&gt;mengitari kalian". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Kucing itu tidak najis, sesungguhnya ia termasuk di antara yang mengitari kalian". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASPEK SOSIAL DI RUMAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nasehat(13):  Memberi Kesempatan untuk  Mendiskusikan Persoalan-Persoalan Keluarga.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka". (As-Syura : 38). &lt;br /&gt;Ketika kepada anggota keluarga diberi waktu dan kesempatan untuk sama-sama duduk mendiskusikan persoalan intern dan ekstern keluarga, maka itulah pertanda bahwa keluarga tersebut memperhatikan keutuhan keluarga, peran dan saling&lt;br /&gt;kerjasamanya. &lt;br /&gt;Tidak disangsikan lagi, bahwa laki-laki yang diberi amanah kepemimpinan dalam rumah tangga adalah  orang yang paling bertanggung jawab, penentu segala keputusan. &lt;br /&gt;Tetapi dengan memberikan kesempatan kepada yang lain - terutama kepada&lt;br /&gt;anak-anak yang menginjak dewasa - maka hal itu akan merupakan pendidikan tanggung jawab kepada mereka, disamping semua akan merasa lepas dan lapang dengan perasaannya, karena pendapat mereka didengar dan dihargai. &lt;br /&gt;Misalnya, dengan mendiskusikan soal umrah pada bulan Ramadhan atau pada liburan-liburan lainnya, bertandang ke sanak keluarga menyambung silaturrahim, berdarmawisata, penyelenggaraan walimah pernikahan, aqiqah, pindah rumah,&lt;br /&gt;proyek-proyek sosial seperti penghitungan jumlah fakir miskin sekampung untuk pemberian bantuan atau pengiriman makanan kepada  mereka, demikian juga diskusi tentang kemelut keluarga, kerabat dan memberikan andil pemecahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga diingatkan kepada bentuk lain dari pertemuan yang penting untuk diselenggarakan, yakni  &lt;br /&gt;"Pertemuan Keterbukaan" antara kedua orangtua dan anak-anak. &lt;br /&gt;Beberapa kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang telah baligh terkadang tidak mungkin untuk dipecahkan kecuali melalui pertemuan pribadi. Misalnya, bapak dengan anak laki-lakinya memperbincangkan secara terbuka berbagai persoalan yang&lt;br /&gt;menyangkut problematika anak remaja dan puber, hukum-hukum baligh. Demikian pula halnya ibu dengan puterinya membincangkan persoalan-persoalan tersebut sekaligus mengajarinya hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita&lt;br /&gt;baligh. &lt;br /&gt;Bapak dan ibu hendaknya berusaha semampu mungkin membantu memecahkan problem anak-anaknya terutama pada masa mereka masih remaja. &lt;br /&gt;Hal itu misalnya bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa-bahasa yang menarik, seperti : "ketika saya masih seumur kamu ...", sehingga mudah diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adanya pertemuan semacam ini terkadang menjadikan sebagian anak-anak menjalin persahabatan dengan teman-teman yang tidak baik, yang pada akhirnya menimbulkan petaka besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nasehat (14): Tidak Menampakkan Konflik Keluarga di Depan Anak-anak. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sangat jarang, sekelompok orang yang hidup serumah tanpa&lt;br /&gt;pernah berselisih. Berdamai setelah berselisih adalah baik&lt;br /&gt;dan kembali pada kebenaran adalah mulia. &lt;br /&gt;Akan tetapi, yang bisa menggoncangkan keutuhan rumah tangga&lt;br /&gt;dan membahayakan keselamatan bangunan intern adalah&lt;br /&gt;tampaknya berbagai perselisihan itu di hadapan anggota&lt;br /&gt;keluarga yang lain, sehingga mereka terpecah menjadi dua&lt;br /&gt;bala tentara atau lebih, kesatuan menjadi bercerai berai,&lt;br /&gt;belum lagi pengaruhnya terhadap kondisi kejiwaan anak-anak&lt;br /&gt;terutama terhadap mereka yang masih kecil. &lt;br /&gt;Renungkanlah, apa yang terjadi jika sang bapak berkata&lt;br /&gt;kepada anaknya: "Jangan bicara dengan ibumu". Sang ibu pun&lt;br /&gt;berkata kepada puterinya: "Jangan bicara dengan ayahmu".&lt;br /&gt;Anak-anak menjadi bingung,  tercabik-cabik jiwanya dan&lt;br /&gt;semua hidup dengan penuh beban dan serba sulit. &lt;br /&gt;Karena itu, hendaknya kita menjaga agar tidak menjadikan&lt;br /&gt;perselisihan, dan kalau toh terpaksa ada hendaknya hal itu&lt;br /&gt;kita sembunyikan. Kita bermohon kepada Allah semoga Allah&lt;br /&gt;mempertautkan segenap hati. &lt;br /&gt;Nasehat (15): Tidak Membolehkan Masuk Rumah kepada Orang&lt;br /&gt;yang tidak Baik Agamanya. &lt;br /&gt;Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dan perumpamaan teman yang jahat itu seperti pandai besi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Bukhari disebutkan: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dan pandai besi (bisa) membakar rumahmu, pakaianmu atau&lt;br /&gt;kau dapati daripadanya bau yang busuk". &lt;br /&gt;Maksudnya, mereka akan membakar rumah dengan berbagai macam&lt;br /&gt;kerusakan dan penghancuran. Betapa banyak, karena masuknya&lt;br /&gt;orang-orang yang rusak dan diragukan (agamanya) menjadi&lt;br /&gt;sebab timbulnya permusuhan di antara anggota keluarga,&lt;br /&gt;berpisahnya suami dari isteri. Allah  melaknat orang yang&lt;br /&gt;menipu wanita dari suaminya atau sebaliknya, dan yang&lt;br /&gt;menyebabkan permusuhan antara bapak dengan anak-anaknya. &lt;br /&gt;Sungguh, tiada sebab-sebab terjadinya sihir di rumah atau&lt;br /&gt;terkadang kasus pencurian dan kerusakan akhlak kecuali&lt;br /&gt;dengan memasukkan orang yang tidak baik agamanya ke dalam&lt;br /&gt;rumah, karena itu hendaknya  mereka tidak diizinkan masuk,&lt;br /&gt;meski dia adalah tetangga, laki-laki atau perempuan, atau&lt;br /&gt;orang-orang yang pura-pura cepat akrab dari laki-laki&lt;br /&gt;maupun perempuan. Sebagian orang terkadang agak sulit&lt;br /&gt;menolak, sehingga ketika ia melihatnya telah berada didepan&lt;br /&gt;pintu, ia mengizinkannya padahal ia tahu bahwa orang&lt;br /&gt;tersebut dari golongan orang-orang yang rusak. &lt;br /&gt;Wanita yang tinggal di rumah, mempunyai tanggung jawab&lt;br /&gt;besar dalam masalah ini. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam bersabda: &lt;br /&gt;''Wahai manusia, Hari apakah yang paling suci? Hari apakah&lt;br /&gt;yang paling suci? Hari apakah yang paling suci?" Mereka&lt;br /&gt;menjawab: "Hari Haji Akbar". Kemudian Nabi bersabda di&lt;br /&gt;tengah khutbahnya pada hari itu: "Adapun hak kalian atas&lt;br /&gt;isteri-isteri kalian adalah hendaknya mereka tidak&lt;br /&gt;membiarkan orang yang kalian benci menginjak kasur (tempat&lt;br /&gt;duduk) kalian, dan tidak memberi izin (masuk) kepada orang&lt;br /&gt;yang kamu benci". &lt;br /&gt;Maka hendaknya engkau, wahai wanita muslimah jangan berat&lt;br /&gt;hati jika suamimu atau ayahmu menolak salah seorang&lt;br /&gt;tetangga wanita masuk ke rumah, karena mereka tahu akan&lt;br /&gt;pengaruhnya dalam perusakan. Juga hendaknya engkau menahan&lt;br /&gt;diri jika wanita tersebut membandingkan antara suaminya&lt;br /&gt;dengan suamimu sehingga engkau tidak meminta kepada suamimu&lt;br /&gt;akan hal-hal yang ia tidak mampu memenuhinya. &lt;br /&gt;Engkau juga wajib menasehati suamimu, jika engkau melihat&lt;br /&gt;di antara kawan-kawannya di rumah ada yang suka mengajak&lt;br /&gt;suamimu kepada kemungkaran. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;PERINGATAN: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Usahakan Semampu Mungkin untuk Lebih Banyak Berada di&lt;br /&gt;Rumah. &lt;br /&gt;Adanya wali (pemimpin) di rumah menjadikan semua persoalan&lt;br /&gt;terkontrol, juga memungkinkan baginya mendidik dan&lt;br /&gt;memperbaiki keadaan, dengan mendampingi dan mengawasi. &lt;br /&gt;Sebagian orang berpendapat bahwa kewajiban asli bagi&lt;br /&gt;laki-laki adalah keluar rumah, jika ia tidak mendapatkan&lt;br /&gt;tempat ke mana harus pergi baru ia pulang ke rumah. Teori&lt;br /&gt;ini adalah keliru. &lt;br /&gt;Jika keluarnya seseorang dari rumah untuk ketaatan, maka&lt;br /&gt;hendaknya bisa menjaga keseimbangan (antara waktu di luar&lt;br /&gt;dan di dalam rumah). Tetapi jika keluarnya untuk maksiat,&lt;br /&gt;menghabiskan waktu secara sia-sia atau berlebih-lebihan&lt;br /&gt;dalam urusan kesibukan dunia maka hendaknya ia mengurangi&lt;br /&gt;kesibukan-kesibukan dan berbagai bentuk bisnis itu, serta&lt;br /&gt; menghilangkan beberapa rapat yang kurang penting. &lt;br /&gt;Sungguh, alangkah keji kaum yang menyia-nyiakan keluarganya&lt;br /&gt;dan begadang di warung-warung atau night club. &lt;br /&gt;Kita tidak mau membeo di belakang program-program&lt;br /&gt;musuh-musuh Allah. Di bawah ini adalah pelajaran berharga: &lt;br /&gt;Dalam brosur hasil kesepakatan Zionis Perancis bernama&lt;br /&gt;Al-Masyriqul A'zham yang diselenggarakan pada tahun 1923&lt;br /&gt;disebutkan: "Dan untuk mencapai perpecahan antara seseorang&lt;br /&gt;dengan keluarganya hendaknya kalian mencabut akhlak dari&lt;br /&gt;akarnya, karena sesungguhnya nafsu cenderung kepada&lt;br /&gt;pemutusan ikatan keluarga dan mendekati kepada hal-hal yang&lt;br /&gt;diharamkan, karena nafsu lebih mengutamakan banyak cerita&lt;br /&gt;dan obrolan di warung-warung kopi untuk menyebarkan isu-isu&lt;br /&gt;keluarga".&lt;br /&gt;Nasehat (16): Teliti dalam Mengamati Anggota Keluarga. &lt;br /&gt;Siapakah teman-teman anak-anakmu?&lt;br /&gt;Apakah mereka telah bertemu denganmu atau engkau mencari&lt;br /&gt;tahu tentang mereka?&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh anak-anakmu bersama mereka di luar&lt;br /&gt;rumah?&lt;br /&gt;Apa yang ada di dalam laci dan tas mereka, di bawah bantal,&lt;br /&gt;kasur dan apa yang mereka rahasiakan?&lt;br /&gt;Kemana anak gadismu pergi dan dengan siapa? &lt;br /&gt;Sebagian orangtua tidak mengetahui kalau ternyata di dalam&lt;br /&gt;lemari anaknya terdapat gambar-gambar dan kaset video yang&lt;br /&gt;tidak mendidik (porno), bahkan kadang-kadang minuman/pil&lt;br /&gt;memabukkan. &lt;br /&gt;Sebagian mereka tidak tahu, anak gadisnya pergi ke pasar&lt;br /&gt;bersama pembantu, lalu ia menyuruh pembantu itu&lt;br /&gt;menungguinya bersama sopir, selanjutnya ia pergi sesuai&lt;br /&gt;janjinya dengan salah seorang kekasihnya, sebagian lain&lt;br /&gt;pergi menghisap rokok bersama kawan-kawan sepermainannya&lt;br /&gt;yang jahat. &lt;br /&gt;Mereka yang bisa lepas diri dari anak-anaknya itu tidak&lt;br /&gt;akan bisa lepas dari persaksian pada Hari Yang Agung, dan&lt;br /&gt;mereka tidak akan bisa lari dari kengerian Hari Pembalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada&lt;br /&gt;setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia&lt;br /&gt;menjaganya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki&lt;br /&gt;ditanya tentang anggota keluarganya." &lt;br /&gt;Tetapi ada hal-hal yang perlu diperhatikan : &lt;br /&gt;1.Pengawasan itu hendaknya dengan diam-diam. &lt;br /&gt;2.Tidak untuk menakut-nakuti. &lt;br /&gt;3.Agar anak-anak tidak merasa kehilangan kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Dalam menasehati dan memberi hukuman hendaknya&lt;br /&gt;memperhatikan umur, pengetahuan dan tingkat kesalahan yang&lt;br /&gt;mereka lakukan. &lt;br /&gt;5.Hati-hatilah untuk melakukan penelitian mendalam dan&lt;br /&gt;sensus jiwa. &lt;br /&gt;Seseorang berkisah kepada Penulis, seorang ayah memiliki&lt;br /&gt;komputer yang di dalamnya ia agendakan semua&lt;br /&gt;kesalahan-kesalahan anaknya dengan perincian tanggal dan&lt;br /&gt;hari sekaligus. Apabila terjadi  kesalahan baru, ia&lt;br /&gt;tampilkan kembali nama file yang khusus mencatat kesalahan&lt;br /&gt;anaknya tersebut,. lalu ia tulis kesalahan yang baru&lt;br /&gt;sehingga kesalahan-kesalahan itu terhimpun rapi, baik yang&lt;br /&gt;lama maupun yang baru. &lt;br /&gt;Komentar: &lt;br /&gt;Kita bukan dalam perusahaan, dan ayah bukanlah malaikat&lt;br /&gt;yang ditugasi menulis semua dosa dan kesalahan. Ayah&lt;br /&gt;seperti itu hendaknya membaca banyak-banyak buku tentang&lt;br /&gt;dasar-dasar pendidikan dalam Islam. &lt;br /&gt;Sebaliknya, penulis juga mengetahui ada orang-orang yang&lt;br /&gt;menolak sama sekali untuk ikut campur dalam urusan&lt;br /&gt;anak-anak mereka, dengan dalih anak tidak akan puas bahwa&lt;br /&gt;kesalahan yang ia lakukan itu sebagai kesalahan sampai ia&lt;br /&gt;terperosok di dalamnya, lalu ia mengetahui kesalahan itu&lt;br /&gt;dengan sendirinya. &lt;br /&gt;Keyakinan yang menyimpang ini berasal dan muncul dari&lt;br /&gt;falsafah Barat serta teori kebebasan yang tercela. Sungguh,&lt;br /&gt;ini adalah hal yang jauh dari kebenaran. &lt;br /&gt;Sebagian orang melepaskan kendali untuk anaknya, karena&lt;br /&gt;takut -menurut anggapannya- anak itu akan membencinya, ia&lt;br /&gt;berkata, saya mencintainya apapun yang ia kerjakan. &lt;br /&gt;Sebagian lain melepaskan kendali anaknya sebagai bentuk&lt;br /&gt;penolakan terhadap pendidikan ketat dan keras yang ia alami&lt;br /&gt;dari ayahnya dahulu (kakek si anak), ia menganggap bahwa&lt;br /&gt;anaknya harus ia perlakukan sebaliknya secara persis. &lt;br /&gt;Sebagian lain ada yang sampai pada tingkat kebodohan yang&lt;br /&gt;sangat rendah hingga mengatakan: "Biarkanlah putera-puteri&lt;br /&gt;kita menikmati masa remajanya seperti yang mereka&lt;br /&gt;kehendaki". &lt;br /&gt;Apakah tipe ayah seperti itu terpikirkan di benaknya bahwa&lt;br /&gt;kelak anak-anak mereka pada hari Kiamat  akan&lt;br /&gt;memanggil-manggil orangtuanya dengan mengatakan: "Hai&lt;br /&gt;bapak, kenapa engkau membiarkan aku berbuat maksiat ?". &lt;br /&gt;Nasehat (17): Perhatian  terhadap Anak-anak di Rumah. &lt;br /&gt;Dalam hal ini ada beberapa segi yang perlu&lt;br /&gt;diperhatikan,diantaranya: &lt;br /&gt;1.Hafalan Al-Qur'an dan kisah-kisah Islami.&lt;br /&gt;Betapa indah manakala sang ayah mengumpulkan anak-anaknya&lt;br /&gt;untuk membacakan kepada mereka  ayat-ayat Al-Qur'an dengan&lt;br /&gt;sedikit keterangan, lalu memberikan hadiah-hadiah bagi yang&lt;br /&gt;bisa menghafalkannya. Seorang anak yang masih kecil bisa&lt;br /&gt;juga telah hafal surat Al-Kahfi karena ayahnya selalu&lt;br /&gt;mengulang-ulang bacaan ayat tersebut setiap kali hari&lt;br /&gt;Jum'at. Demikian pula dengan mengajari anak-anak&lt;br /&gt;dasar-dasar akidah Islam seperti yang termuat dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu".&lt;br /&gt;Dan mengajari mereka adab (akhlak) serta do'a-do'a. Seperti&lt;br /&gt;do'a makan, tidur, bersin, juga membiasakan salam dan minta&lt;br /&gt;izin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk yang amat menarik dan berpengaruh besar terhadap&lt;br /&gt;anak adalah dengan menceritakan dan memperdengarkan kepada&lt;br /&gt;mereka kisah-kisah Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kisah-kisah itu adalah kisah Nabi Nuh alaihis&lt;br /&gt;salam  dan banjir topan, kisah Nabi Ibrahim alaihis salam&lt;br /&gt;dalam menghancurkan patung-patung lalu pelemparan Nabi&lt;br /&gt;lbrahim alaihis salam  ke dalam api, kisah Nabi Musa dan&lt;br /&gt;selamatnya dari Fir'aun yang kemudian ia tenggelam dalam&lt;br /&gt;lautan, kisah Nabi Yunus alaihis salam  dalam perut ikan,&lt;br /&gt;kisah singkat Nabi Yusuf alaihis salam dan perjalanan hidup&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti&lt;br /&gt;diutusnya beliau  sebagai rasul dan kisah hijrah, petikan&lt;br /&gt;peperangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt; seperti perang Badar dan Khandaq dan yang lain seperti&lt;br /&gt;kisah beliau dengan laki-laki dan unta yang menjadikannya&lt;br /&gt;lapar dan bersusah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kisah orang-orang shalih, seperti kisah Umar bin&lt;br /&gt;Khathab radhiyallah 'anhu dengan seorang ibu bersama&lt;br /&gt;anak-anaknya yang kelaparan di dalam kemah, kisah para&lt;br /&gt;penggali parit (Ashaabul Ukhduud), kisah pemilik-pemilik&lt;br /&gt;kebun dalam surat Nun, dan tiga orang yang tersekap di&lt;br /&gt;dalam gua dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hal di atas hendaknya diringkas dan disederhanakan&lt;br /&gt;dengan beberapa komentar dan pengambilan ibrah (pelajaran),&lt;br /&gt;kita tidak membutuhkan cerita-cerita yang bermacam-macam&lt;br /&gt;yang menyimpang dari aqidah dan penuh khurafat atau yang&lt;br /&gt;menakutkan (horor) sehingga merusak jiwa anak karena&lt;br /&gt;mewariskan rasa takut dan pengecut.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;2.Hati-hati terhadap keluarnya anak-anak bersama teman&lt;br /&gt;jalanan (yang semaunya).&lt;br /&gt;Akibatnya anak-anak akan pulang ke rumah dengan membawa&lt;br /&gt;ucapan dan akhlak yang tercela. Sebaiknya teman-teman&lt;br /&gt;mereka dipilihkan dari anak-anak kerabat dan tetangga lalu&lt;br /&gt;mereka dipanggil ke rumah sehingga bermain di dalam rumah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;3.Perhatian terhadap mainan anak-anak yang menghibur dan&lt;br /&gt;mendidik.&lt;br /&gt;Hendaknya disediakan ruangan untuk anak-anak bermain. Baik&lt;br /&gt;juga jika ada lemari khusus sehingga anak-anak bisa&lt;br /&gt;menertibkan mainan mereka di dalam lemari  tersebut.&lt;br /&gt;Hendaknya dihindari beberapa permainan yang bertentangan&lt;br /&gt;dengan syariat, seperti: alat-alat musik, yang bertanda&lt;br /&gt;gambar salib, atau permainan dadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih baik jika dipenuhi sarana yang menunjang&lt;br /&gt;ketrampilan bagi anak-anak remaja seperti pertukangan,&lt;br /&gt;elektronika, mekanika dan beberapa permainan (games)&lt;br /&gt;komputer yang dibolehkan. Tetapi  dalam hal ini, kita&lt;br /&gt;mengingatkan bahaya program komputer yang bisa menampilkan&lt;br /&gt;gambar wanita-wanita perusak, juga permainan yang di&lt;br /&gt;dalamnya terdapat gambar salib, bahkan sebagian mengatakan,&lt;br /&gt;salah satu game komputer berbentuk permainan judi. Demikian&lt;br /&gt;juga ada game yang menampilkan empat gadis di layar&lt;br /&gt;monitor. Orang yang memainkan game ini harus memilih salah&lt;br /&gt;satu di antara empat gambar tersebut yang kesemuanya hampir&lt;br /&gt;mirip. Jika menang dalam game ini, pemain akan diberi&lt;br /&gt;pertanda hadiah dengan keluarnya gadis yang paling seronok&lt;br /&gt;dan porno, na'udzubillah. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;4.Memisahkan antara anak laki-laki dengan anak perempuan&lt;br /&gt;dalam tidur.&lt;br /&gt;Inilah perbedaan cara menertibkan rumah antara orang yang&lt;br /&gt;taat beragama dengan orang yang sama sekali tidak&lt;br /&gt;memperhatikan persoalan agama.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;5.Bercanda dan menyayangi.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mencandai&lt;br /&gt;anak-anak, mengusap kepala mereka dan memanggil mereka&lt;br /&gt;dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan oleh-oleh pertama&lt;br /&gt;kali kepada anak yang paling kecil, terkadang sebagian dari&lt;br /&gt;anak-anak itu menaiki Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam . &lt;br /&gt;Di bawah ini adalah dua contoh canda Rasulullah Shallallahu&lt;br /&gt;'alaihi wa sallam kepada Hasan dan Husain.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallah 'anhu ia berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjulurkan&lt;br /&gt;lidahnya kepada Hasan bin Ali maka anak itu melihat&lt;br /&gt;merahnya lidah beliau sehingga ta'ajub dan menarik minatnya&lt;br /&gt;lalu ia segera menghampiri beliau".&lt;br /&gt;Dari Ya'la bin Murrah ia berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Kami keluar bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba Husain sedang&lt;br /&gt;bermain di jalan maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam segera (menghampirinya) di hadapan banyak orang.&lt;br /&gt;Beliau membentangkan kedua tangannya lalu anak itu lari ke&lt;br /&gt;sana kemari sehingga membuat Nabi Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam tertawa sampai beliau (berhasil) memegangnya lalu&lt;br /&gt;beliau letakkan salah satu tangannya di bawah dagu anak&lt;br /&gt;tersebut dan yang lain di tengah-tengah kepalanya kemudian&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menciumnya". &lt;br /&gt;Pembahasan dalam hal ini sangat panjang. Mudah-mudahan&lt;br /&gt;penulis berkesempatan membahasnya secara tersendiri dalam&lt;br /&gt;buku lain, Insya Allah. &lt;br /&gt;Nasehat (18): Mengatur Waktu Tidur dan Makan. &lt;br /&gt;Sebagian rumah, punya kondisi layaknya hotel, hampir&lt;br /&gt;penghuninya tidak mengenal satu sama lain, dan jarang&lt;br /&gt;sekali mereka bertemu. &lt;br /&gt;Sebagian anak makan atau tidur kapan saja mereka suka&lt;br /&gt;sehingga menyebabkan mereka begadang dan menyia-nyiakan&lt;br /&gt;waktu, juga menumpuk antara makanan yang satu dengan&lt;br /&gt;lainnya. Kekacauan seperti ini menyebabkan runtuhnya  tali&lt;br /&gt;ikatan, semangat dan waktu yang sia-sia serta membentuk&lt;br /&gt;jiwa tidak konsisten (istiqamah). &lt;br /&gt;Sebagian orang yang pandai berdalih mengatakan, anak-anak&lt;br /&gt;yang sekolah dan kuliah waktu keluarnya tidak bersamaan,&lt;br /&gt;laki-laki dan perempuan, demikian pula halnya dengan&lt;br /&gt;pegawai, buruh dan pedagang. &lt;br /&gt;Akan tetapi kondisi seperti ini tidak berlaku untuk semua.&lt;br /&gt;Sungguh, tidak ada kenikmatan yang melebihi berkumpulnya&lt;br /&gt;satu keluarga di meja makan, lalu menggunakan kesempatan&lt;br /&gt;tersebut untuk mengetahui keadaan masing-masing serta&lt;br /&gt;mendiskusikan sesuatu  yang bermanfaat. Bagi pemimpin rumah&lt;br /&gt;tangga hendaknya menentukan waktu kembali (pulang) ke&lt;br /&gt;rumah, dan izin kalau mau bepergian, terutama bagi&lt;br /&gt;anak-anak kecil - (sedikit) dalam umur dan akal - yang&lt;br /&gt;masih dikhawatirkan terjadi apa-apa atas mereka. &lt;br /&gt;Nasehat (19): Meluruskan Pekerjaan Wanita di Luar Rumah. &lt;br /&gt;Syariat Islam adalah saling melengkapi satu sama lain.&lt;br /&gt;Ketika Allah memerintah para wanita dengan firmanNya:&lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu". (Al-Ahzab:33). &lt;br /&gt;Maka Allah menjadikan ada orang yang wajib menafkahi&lt;br /&gt;mereka, seperti ayah atau suami. &lt;br /&gt;Pada hukum asalnya, wanita tidak dibolehkan bekerja di luar&lt;br /&gt;rumah kecuali karena suatu kebutuhan.  Sebagaimana  ketika&lt;br /&gt;Musa alaihis salam melihat dua anak gadis orang shalih yang&lt;br /&gt;menahan (menghambat) kambing gembalaannya menunggu giliran.&lt;br /&gt;Musa menanyakan kepada mereka: &lt;br /&gt;"Apakah maksudmu (dengan berniat begitu)? Kedua wanita itu&lt;br /&gt;menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami),&lt;br /&gt;sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan&lt;br /&gt;(ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang lanjut&lt;br /&gt;usianya."." (Al-Qashash: 23). &lt;br /&gt;Kedua wanita itu seketika menyampaikan alasannya mengapa&lt;br /&gt;mereka keluar memberi minum kambing ternaknya, yakni sebab&lt;br /&gt;wali tak mampu lagi bekerja karena usianya telah lanjut.&lt;br /&gt;Karena itu hendaknya  kita berusaha untuk menjaga agar&lt;br /&gt;wanita muslimah tidak bekerja di luar rumah, selama hal itu&lt;br /&gt;memungkinkan. Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:"Ya bapakku,&lt;br /&gt;ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena&lt;br /&gt;sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk&lt;br /&gt;bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat&lt;br /&gt;dipercaya"." (Al-Qashash: 26). &lt;br /&gt;Wanita tersebut dengan kalimat-kalimatnya menjelaskan&lt;br /&gt;keinginannya untuk kembali ke rumah sehingga dirinya&lt;br /&gt;terlindungi dari kejelekan dan gangguan yang bisa saja&lt;br /&gt;terjadi jika ia bekerja di luar rumah. &lt;br /&gt;Ketika orang-orang kafir pada zaman ini membutuhkan wanita&lt;br /&gt;pekerja setelah Perang Dunia I dan II maka itu adalah untuk&lt;br /&gt;mengganti kekurangan laki-laki.  Kondisinya sangat sulit&lt;br /&gt;karena mereka harus mengembalikan denyut kemajuan yang&lt;br /&gt;telah dihancurkan oleh perang. Program Yahudi itu sangat&lt;br /&gt;getol dalam pembebasan wanita, mereka menyerukan hak-hak&lt;br /&gt;wanita, dengan maksud untuk menghancurkan wanita, yang&lt;br /&gt;selanjutnya akan menghancurkan bangunan masyarakat, yang&lt;br /&gt;awalnya disebabkan oleh keluarnya wanita untuk bekerja. &lt;br /&gt;Meskipun motivasi (yang mendasari semangat) yang kita&lt;br /&gt;miliki tidak seperti yang mereka miliki, sedang setiap&lt;br /&gt;pribadi muslim mesti menjaga isteri dan menafkahi mereka,&lt;br /&gt;akan  tetapi gerakan pembebasan wanita semakin bersemangat,&lt;br /&gt;bahkan sampai menuntut perlu dikirimnya wanita-wanita ke&lt;br /&gt;luar negeri, selanjutnya meminta mereka bekerja agar ijazah&lt;br /&gt;yang mereka miliki tidak sia-sia. &lt;br /&gt;Ini adalah sebuah  kekeliruan.  Masyarakat muslim sungguh&lt;br /&gt;tidak membutuhkan persoalan wanita bekerja ini dalam&lt;br /&gt;lapangan yang luas.&lt;br /&gt;Diantara argumen dalam masalah tersebut adalah terdapatnya&lt;br /&gt;laki-laki yang menganggur sementara lapangan bagi kaum&lt;br /&gt;wanita terus dibuka dan diperluas. &lt;br /&gt;Ketika kita mengatakan, "dalam lapangan yang luas" maka&lt;br /&gt;pemahaman maknanya amat kita perhatikan. Sebab kebutuhan&lt;br /&gt;terhadap pekerjaan wanita di beberapa sektor seperti&lt;br /&gt;pengajaran, kebidanan, dan kedokteran sesuai dengan&lt;br /&gt;syarat-syarat agama adalah tetap diperlukan. &lt;br /&gt;Kita awali pembahasan ini dengan mukaddimah seperti  di&lt;br /&gt;muka, karena kita saksikan bahwa sebagian wanita keluar&lt;br /&gt;bekerja dengan tidak karena kebutuhan, bahkan terkadang&lt;br /&gt;dengan gaji yang sangat kecil sebab ia merasa harus keluar&lt;br /&gt;bekerja meski ia sendiri tidak membutuhkannya, bahkan meski&lt;br /&gt;di tempat yang tidak cocok untuknya, setelah itu terjadi&lt;br /&gt;berbagai fitnah yang besar. &lt;br /&gt;Agar adil, maka kita mengatakan: Sesungguhnya bekerjanya&lt;br /&gt;wanita terkadang memang benar-benar suatu kebutuhan.&lt;br /&gt;Misalnya wanita itulah yang menanggung dan menopang ekonomi&lt;br /&gt;keluarga setelah kematian suami  atau ayahnya telah tua&lt;br /&gt;renta sehingga tak sanggup bekerja atau yang semisalnya. &lt;br /&gt;Di sebagian negara, karena nilai-nilai masyarakatnya tidak&lt;br /&gt;atas dasar nilai-nilai Islami maka terpaksa  isteri&lt;br /&gt; bekerja  untuk  ikut menutupi kebutuhan rumah tangga&lt;br /&gt;bersama suaminya, bahkan seorang laki-laki tidak mau&lt;br /&gt;meminang kecuali kepada wanita yang telah bekerja, lebih&lt;br /&gt;dari itu sebagian mereka dalam akad nikahnya mensyaratkan&lt;br /&gt;agar calon isterinya itu bekerja. &lt;br /&gt;Kesimpulan: &lt;br /&gt;Terkadang wanita bekerja untuk kebutuhan atau untuk tujuan&lt;br /&gt;yang Islami seperti dakwah kepada Allah di medan&lt;br /&gt;pendidikan, atau sebagai hiburan seperti yang terjadi pada&lt;br /&gt;sebagian mereka yang tidak memiliki anak. &lt;br /&gt;Adapun dampak negatif bekerjanya wanita di luar rumah, di&lt;br /&gt;antaranya yaitu: &lt;br /&gt;1.Timbulnya berbagai bentuk kemungkaran, seperti&lt;br /&gt; ikhtilath (percampuran antara laki-laki dan perempuan&lt;br /&gt;tanpa hijab), yang berakibat saling berkenalan lalu&lt;br /&gt;melakukan khalwat (berduaan), menggunakan wewangian untuk&lt;br /&gt;menarik lelaki, memperlihatkan perhiasan kepada mereka,&lt;br /&gt;yang pada akhirnya bisa berlanjut jauh hingga pada&lt;br /&gt;perzinaan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;2.Tidak memberikan hak suami, meremehkan persoalan rumah&lt;br /&gt;dan melalaikan hak-hak anak (dan ini adalah tema kita yang&lt;br /&gt;sebenarnya).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;3.Berkurangnya makna hakiki dari perasaan kepemimpinan&lt;br /&gt;laki-laki atas jiwa sebagian wanita. Cobalah renungkan,&lt;br /&gt;seorang wanita yang membawa ijazah sama seperti ijazah&lt;br /&gt;suaminya bahkan terkadang ijazahnya lebih tinggi dari&lt;br /&gt;ijazah suaminya (padahal ini tidak tercela), lalu dia&lt;br /&gt;bekerja dengan gaji yang terkadang lebih tinggi dari gaji&lt;br /&gt;suaminya. Apakah wanita seperti ini akan merasa perlu&lt;br /&gt;sepenuhnya kepada sang suami dan akan mentaatinya dengan&lt;br /&gt;sempurna? Ataukah perasaan tidak butuh menyebabkan kemelut&lt;br /&gt;goncangnya  bangunan rumah tangga secara mendasar?. Kecuali&lt;br /&gt;wanita yang dikehendaki baik oleh Allah Subhanahu wa&lt;br /&gt;Ta'ala. Demikianlah, persoalan nafkah atas isteri yang&lt;br /&gt;bekerja serta nafkah kepada keluarga tidak akan berakhir.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;4.Menambah beban fisik, tekanan jiwa dan saraf yang tidak&lt;br /&gt;sesuai dengan kodrat wanita. &lt;br /&gt;Setelah pemaparan sekilas masalah maslahat dan kerugian&lt;br /&gt;wanita bekerja, kita mengatakan: Hendaknya kita bertakwa&lt;br /&gt;kepada Allah, menimbang setiap permasalahan dengan&lt;br /&gt;timbangan syar'i, dan memahami kondisi yang membolehkan&lt;br /&gt;wanita keluar untuk bekerja dan kondisi mana yang&lt;br /&gt;melarangnya. Janganlah kita buta karena masalah pekerjaan&lt;br /&gt;duniawi dari jalan kebenaran. &lt;br /&gt;Kita nasehatkan kepada wanita muslimah agar bertakwa kepada&lt;br /&gt;Allah, mentaati suami jika ia menghendakinya agar&lt;br /&gt;meninggalkan pekerjaannya demi kemaslahatan dirinya dan&lt;br /&gt;kemaslahatan rumah tangga. &lt;br /&gt;Begitu pula bagi suami, agar tidak menyusun strategi balas&lt;br /&gt;dendam dan agar tidak makan harta isterinya dengan tanpa&lt;br /&gt;dibenarkan. &lt;br /&gt;Nasehat (20): Menjaga Rahasia Rumah Tangga. &lt;br /&gt;Masalah ini menyangkut beberapa hal, diantaranya: &lt;br /&gt;1.Tidak menyebarkan rahasia hubungan intim suami isteri. &lt;br /&gt;2.Tidak membawa keluar percekcokan suami isteri. &lt;br /&gt;3.Tidak membuka kepada umum rahasia dan kekhususan apapun,&lt;br /&gt;hal yang apabila tampak akan membahayakan rumah tangga atau&lt;br /&gt;salah satu anggota keluarga. &lt;br /&gt;Adapun petaka pertama, dalil pelarangannya, adalah sabda&lt;br /&gt;Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk&lt;br /&gt;kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat yaitu laki-laki&lt;br /&gt;yang mencumbui isterinya, dan isteri yang mencumbui&lt;br /&gt;suaminya, kemudian ia sebarluaskan rahasianya". &lt;br /&gt;Makna (  ) yaitu ia melakukan percampuran, percumbuan dan&lt;br /&gt;persetubuhan seperti dalam firman Allah:&lt;br /&gt;"Bagaimana kamu mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu&lt;br /&gt;telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami&lt;br /&gt;isteri". (An-Nisa' : '21). &lt;br /&gt;Diantara dalil pelarangan yang lain adalah hadits Asma'&lt;br /&gt;binti Yazid, bahwasanya ia berada pada majlis Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang para lelaki dan&lt;br /&gt;perempuan sama duduk. Beliau bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Barangkali ada laki-laki yang mengatakan tentang apa yang&lt;br /&gt;ia lakukan bersama isterinya, dan barangkali ada perempuan&lt;br /&gt;yang mengabarkan tentang apa yang ia lakukan bersama&lt;br /&gt;suaminya. Maka orang-orang pun terdiam, lalu aku katakan:&lt;br /&gt;"Ya (benar), demi Allah, wahai Rasulullah. Sungguh para&lt;br /&gt;wanita melakukan itu dan para lelaki juga demikian".&lt;br /&gt;Rasulullah berkata : "Jangan kalian lakukan, sebab hal itu&lt;br /&gt;sesungguhnya seperti setan laki-laki yang bertemu dengan&lt;br /&gt;setan perempuan di jalan lalu ia menyetubuhinya sedang&lt;br /&gt;orang-orang pada melihatnya"." &lt;br /&gt;Dalam riwayat Abu Daud disebutkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Apakah ada diantara kamu laki-laki yang apabila mendatangi&lt;br /&gt;istrinya lalu mengunci pintunya dan menghamparkan kelambu&lt;br /&gt;penghalangnya dan ia bertabir dengan tabir Allah?" Mereka&lt;br /&gt;menjawab: "Ya benar". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam bersabda (melanjutkan): "Setelah itu ia duduk lalu&lt;br /&gt;berkata: aku telah melakukan begini dan melakukan begitu" .&lt;br /&gt;Mereka terdiam,lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam menghadapi para wanita kemudian bersabda: "Apakah di&lt;br /&gt;antara kalian ada yang membicarakannya ?" Mereka terdiam.&lt;br /&gt;Kemudian bangkitlah seorang gadis montok di atas salah satu&lt;br /&gt;lututnya dan mendongakkan diri kepada Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga beliau melihatnya&lt;br /&gt;dan mendengar ucapannya. Lalu ia berkata: "Wahai&lt;br /&gt;Rasulullah, sesungguhnya para lelaki membicarakannya,&lt;br /&gt;demikian pula halnya dengan para wanita". Maka Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apakah kalian tahu&lt;br /&gt;apa perumpamaan hal tersebut? Sesungguhnya perumpamaan hal&lt;br /&gt;itu adalah seperti setan wanita yang bertemu dengan setan&lt;br /&gt;laki-laki di jalan, maka ia lampiaskan hajatnya sedang&lt;br /&gt;manusia melihat kepadanya" &lt;br /&gt;Adapun perkara kedua yakni membawa keluar rumah percekcokan&lt;br /&gt;suami isteri, pada banyak kasus justru menambah ruwetnya&lt;br /&gt;persoalan, pihak ketiga ikut campur dalam perselisihan&lt;br /&gt;suami isteri sehingga pada  sebagian besar kasus menambah&lt;br /&gt;persoalan baru. &lt;br /&gt;Jalan keluarnya -jika orang lain ingin membantu, terutama&lt;br /&gt;orang yang paling dekat dengan keduanya - yaitu dengan&lt;br /&gt;melakukan surat menyurat antara keduanya. Hendaknya tidak&lt;br /&gt;mencampuri urusan tersebut kecuali karena alasan menjadi&lt;br /&gt;pihak yang mendamaikan secara langsung. Ketika itu kita&lt;br /&gt;lakukan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam : &lt;br /&gt;"Maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga&lt;br /&gt;laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika&lt;br /&gt;kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan,&lt;br /&gt;niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri&lt;br /&gt;itu".(An-Nisa' :35). &lt;br /&gt;Perkara ketiga, yaitu mengundang bahaya bagi rumah tangga&lt;br /&gt;atau salah satu dari anggotanya dengan menebarkan&lt;br /&gt;rahasia-rahasianya. Ini tidak boleh, sebab ia termasuk&lt;br /&gt;dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh&lt;br /&gt;(pula) membahayakan orang lain". &lt;br /&gt;Di antara contohnya yaitu seperti yang termaktub dalam&lt;br /&gt;firman Allah: &lt;br /&gt;"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi&lt;br /&gt;orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua&lt;br /&gt;orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu&lt;br /&gt;kedua isteri berkhianat kepada kedua suaminya...".&lt;br /&gt;(At-Tahrim: 10). &lt;br /&gt;Ibnu Katsir dalam menukil tafsir ayat ini mengatakan:&lt;br /&gt;"Isteri Nuh tersebut selalu mengintip rahasia Nuh, apabila&lt;br /&gt;ada orang yang beriman kepada Nuh maka ia mengabarkan&lt;br /&gt;kepada para pembesar kaum Nuh tentang keimanan itu. Adapun&lt;br /&gt;isteri Luth maka jika Luth menerima tamu laki-laki,&lt;br /&gt;dikabarkannya hal itu kepada orang-orang yang biasa&lt;br /&gt;melakukan kejahatan (homosex)", yakni agar mereka datang&lt;br /&gt;lalu melakukan perbuatan homosex dengan tamu tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nasehat (21): Mentradisikan Pergaulan yang Baik (keramahan)&lt;br /&gt; di Rumah. &lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiyallah 'anhu ia berkata: Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Jika Allah 'Azza Wa Jalla menghendaki kebaikan kepada&lt;br /&gt;suatu keluarga maka Ia menganugerahkan atas mereka&lt;br /&gt;pergaulan yang baik". &lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu keluarga maka Ia&lt;br /&gt;anugerahkan atas mereka pergaulan yang baik". &lt;br /&gt;Artinya masing-masing mempergauli yang lain dengan baik.&lt;br /&gt;Inilah salah satu sebab kebahagiaan di rumah. Pergaulan&lt;br /&gt;yang baik dan keramah-tamahan adalah sangat bermanfaat&lt;br /&gt;antara kedua suami isteri,  juga dengan anak-anak, yang&lt;br /&gt;daripadanya akan melahirkan hasil yang tak mungkin&lt;br /&gt;dihasilkan oleh kekerasan. Sebagaimana sabda Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah mencintai pergaulan yang baik&lt;br /&gt;(keramahan), dan Ia memberikan kepada pergaulan yang baik&lt;br /&gt;(keramahan) apa yang tidak diberikanNya kepada kekerasan&lt;br /&gt;dan apa yang tidak diberikan kepada selainnya". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (22):  Membantu Keluarga dalam Pekerjaan Rumah. &lt;br /&gt;Banyak lelaki yang enggan melakukan pekerjaan rumah,&lt;br /&gt;sebagian mereka berkeyakinan bahwa di antara yang&lt;br /&gt;menyebabkan berkurangnya kedudukan dan wibawa laki-laki&lt;br /&gt;yaitu ikut bersama anggota keluarga yang lain melakukan&lt;br /&gt;pekerjaan mereka. &lt;br /&gt;Adapun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau&lt;br /&gt;menjahit sendiri bajunya, menambal sandalnya dan melakukan&lt;br /&gt;pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki di dalam&lt;br /&gt;rumah mereka. &lt;br /&gt;Demikian dikatakan oleh isteri beliau Aisyah radhiyallah&lt;br /&gt;'anha ketika ia ditanya apa yang dikerjakan oleh Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rumahnya. Aisyah&lt;br /&gt;radhiyallah 'anhu menjawab dengan apa yang dilihatnya&lt;br /&gt;sendiri. Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Ia adalah manusia di antara sekalian manusia, membersihkan&lt;br /&gt;bajunya, memerah susu kambingnya dan melayani dirinya". &lt;br /&gt;Aisyah radhiyallah 'anhu juga ditanya apa yang dilakukan&lt;br /&gt;oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam&lt;br /&gt;rumahnya. Ia berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Ia ada (bersama) pekerjaan keluarganya -maksudnya membantu&lt;br /&gt;keluarganya- dan apabila datang (waktu) shalat ia keluar&lt;br /&gt;untuk shalat". &lt;br /&gt;Jika hal itu kita praktekkan sekarang, berarti kita telah&lt;br /&gt;mewujudkan beberapa kemaslahatan: &lt;br /&gt;1.Meneladani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . &lt;br /&gt;2.Kita ikut membantu keluarga. &lt;br /&gt;3.Kita merasa rendah hati dan tidak takabbur (sombong). &lt;br /&gt;Sebagian suami meminta kepada isterinya agar menghidangkan&lt;br /&gt;makanan dengan segera, sementara periuk masih di atas&lt;br /&gt;tungku api, anak kecilnya berteriak ingin disusui, ia tidak&lt;br /&gt;menyentuh anak tersebut, juga tidak mau sabar sedikit&lt;br /&gt;menunggu makanan. Hendaknya beberapa hadits di atas menjadi&lt;br /&gt;pelajaran dan peringatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nasehat (23): Bersikap Lembut dan Bercanda dengan Keluarga&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap lembut kepada isteri dan anak-anak merupakan salah&lt;br /&gt;satu faktor yang bisa menebarkan iklim kebahagiaan dan&lt;br /&gt;eratnya hubungan baik di tengah keluarga. Karena itu&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menasehati Jabir&lt;br /&gt;agar menikahi wanita yang masih perawan. Beliau mengatakan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Kenapa (tidak engkau pilih) perawan (sehingga) engkau bisa&lt;br /&gt;mencandainya dan dia mencandaimu, dan engkau (bisa)&lt;br /&gt;membuatnya tertawa dan dia membuatmu tertawa".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Segala  sesuatu  yang  di  dalamnya tidak ada dzikrullah&lt;br /&gt;adalah sia-sia belaka, kecuali empat perkara: percandaan&lt;br /&gt;laki-laki terhadap isterinya...". &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mencandai Aisyah&lt;br /&gt;radhiyallah 'anha ketika beliau mandi bersamanya. Aisyah&lt;br /&gt;berkisah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Aku dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah&lt;br /&gt;mandi bersama dari satu gayung untuk berdua (secara&lt;br /&gt;bergantian), lalu beliau mendahuluiku sehingga aku katakan&lt;br /&gt;"biarkan untukku, biarkan untukku", ia berkata : sedang&lt;br /&gt;keduanya berada dalam keadaan junub". &lt;br /&gt;Adapun canda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;kepada anak-anak kecil maka sangat banyak untuk disebutkan.&lt;br /&gt;Beliau sering  menyayangi dan mencandai Hasan dan Husein&lt;br /&gt;sebagaimana telah kita singgung di muka. Barangkali ini&lt;br /&gt;pula yang menyebabkan anak-anak kecil amat gembira dengan&lt;br /&gt;kedatangan beliau dari bepergian. Mereka segera menghambur&lt;br /&gt;untuk menjemput Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Apabila datang dari perjalanan, beliau dihamburi oleh&lt;br /&gt;anak-anak kecil dari keluarganya". &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendekap mereka,&lt;br /&gt;seperti diceritakan oleh Abdullah bin Ja'far:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang dari&lt;br /&gt;bepergian, beliau menghambur kepada kami, menghambur kepada&lt;br /&gt;saya, kepada Hasan dan Husain, ia berkata: "Nabi&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam membawa salah seorang dari&lt;br /&gt;kami di antara kedua tangannya, dan yang lain di&lt;br /&gt;belakangnya sehingga kami masuk kota Madinah". &lt;br /&gt;Bandingkanlah antara hal ini dengan keadaan sebagian rumah&lt;br /&gt;yang gersang, tak ada canda, tak ada tawa, kelembutan, juga&lt;br /&gt;tidak kasih sayang. &lt;br /&gt;Barangsiapa yang mengira bahwa mencium anak-anak akan&lt;br /&gt;mengurangi wibawa ayah maka hendaknya ia membaca hadits&lt;br /&gt;berikut ini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallah 'anhu ia berkata: "Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam mencium  Hasan bin Ali sedang&lt;br /&gt;di sisi beliau terdapat Al-Aqra' bin Habis At-Tamimi sedang&lt;br /&gt;duduk. Maka Al-Aqra' berkata: "Saya memiliki sepuluh anak,&lt;br /&gt;saya tidak pernah mencium  seorangpun dari mereka".  Maka&lt;br /&gt; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kepadanya&lt;br /&gt;kemudian  bersabda:  "Barangsiapa tidak mengasihi, niscaya&lt;br /&gt;dia tidak dikasihi". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (24): Menyingkirkan Akhlak Buruk di Rumah. &lt;br /&gt;Salah seorang dari anggota keluarga tidak mungkin bisa&lt;br /&gt;lepas dari akhlak buruk dan menyimpang, seperti: dusta,&lt;br /&gt;menggunjing, mengadu domba atau yang semacamnya. Akhlak&lt;br /&gt;buruk ini harus dilawan dan disingkirkan. &lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka bahwa hukuman jasmani adalah&lt;br /&gt;satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut.&lt;br /&gt;Di bawah ini Aisyah radhiyallah 'anha meriwayatkan hadits&lt;br /&gt;-dalam persoalan tersebut- yang penuh muatan pendidikan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila&lt;br /&gt;mengetahui seseorang anggota keluarganya melakukan sekali&lt;br /&gt;dusta, beliau terus memalingkan diri daripadanya sehingga&lt;br /&gt;ia mengatakan bertaubat." &lt;br /&gt;Dari hadits di atas, jelaslah bahwa memalingkan diri dan&lt;br /&gt;hijr (memisah, mendiamkan, meninggalkan) dia  dengan tidak&lt;br /&gt;mengajaknya bercakap-cakap serta memberikan hukuman yang&lt;br /&gt;setimpal - dalam hal ini - adalah lebih berpengaruh&lt;br /&gt;daripada hukuman jasmani. Karena itu hendaknya para&lt;br /&gt;pendidik di rumah merenungkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (25):Gantungkanlah Cambuk sehingga  Bisa Dilihat&lt;br /&gt;oleh Anggota  Keluarga. &lt;br /&gt;Menampakkan dan memberi isyarat bentuk hukuman adalah salah&lt;br /&gt;satu metode pendidikan yang tinggi. Karena itu Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;menerangkan sebab mengapa seyogyanya digantungkan cambuk&lt;br /&gt;atau tongkat di rumah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Gantungkanlah cambuk di mana bisa dilihat oleh anggota&lt;br /&gt;keluarga, karena ia lebih mendidik mereka". &lt;br /&gt;Dengan melihat alat untuk menghukum, menjadikan&lt;br /&gt; orang-orang  yang  berniat jahat takut melakukannya,&lt;br /&gt;karena merasa ngeri dengan bentuk hukuman yang bakal&lt;br /&gt;diterimanya, sehingga ia menjadi motivasi (pendorong) bagi&lt;br /&gt;mereka dalam beradab dan berakhlak mulia. &lt;br /&gt;Ibnu Al-Anbari berkata: "Tidak ada riwayat yang menyebutkan&lt;br /&gt;agar memukul dengan alat itu, karena Rasulullah Shallallahu&lt;br /&gt;'alaihi wa sallam tidak menyuruh hal tersebut kepada&lt;br /&gt;seorangpun, tetapi beliau inginkan agar engkau tidak lepas&lt;br /&gt;mendidik mereka" &lt;br /&gt;Memukul sama sekali bukan dasar dalam mendidik. Tidak&lt;br /&gt;dibolehkan menggunakannya kecuali jika seluruh cara&lt;br /&gt;mendidik telah habis atau membebaninya untuk melakukan&lt;br /&gt;ketaatan yang diwajibkan. Seperti firman Allah: &lt;br /&gt;"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz (meninggalkan&lt;br /&gt;kewajiban bersuami isteri)nya maka nasehatilah mereka dan&lt;br /&gt;pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka dan pukullah&lt;br /&gt;mereka". (An-Nisa: 34). &lt;br /&gt;Secara tertib, juga seperti dalam sabda Nabi Shallallahu&lt;br /&gt;'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Perintahkanlah anak-anakmu melakukan shalat ketika mereka&lt;br /&gt;berusia tujuh tahun dan pukullah karena meninggalkannya&lt;br /&gt;ketika mereka berumur sepuluh tahun". &lt;br /&gt;Menggunakan hukuman pukul tanpa dibutuhkan merupakan bentuk&lt;br /&gt;pelanggaran. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;menasehati wanita agar tidak menikah dengan laki-laki&lt;br /&gt;karena dia tidak meletakkan tongkat dari lehernya,&lt;br /&gt;maksudnya karena ia suka memukuli wanita. &lt;br /&gt;Tetapi orang yang menganggap tidak perlu hukuman pukul&lt;br /&gt;secara mutlak, karena taklid pada teori pendidikan&lt;br /&gt;orang-orang kafir, maka pendapat ini salah besar dan&lt;br /&gt;bertentangan dengan nash-nash syar'i. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KE MUNGKARAN-KEMUNGKARAN DALAM RUMAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Nasehat (26): Waspada terhadap Masuknya Kerabat yang Bukan&lt;br /&gt;Mahram kepada Isteri yang Ada di Rumah&lt;br /&gt;ketika Suami sedangTiada. &lt;br /&gt;Nasehat (27): Memisahkan Antara Laki-laki dengan Wanita&lt;br /&gt;dalam Acara Kunjungan Silaturahim Keluarga. &lt;br /&gt;Nasehat (28): Waspada terhadap Bahaya Sopir dan Pembantu di&lt;br /&gt;Rumah . &lt;br /&gt;Nasehat (29): Keluarkanlah Orang yang Bersikap&lt;br /&gt;Kebanci-bancian dari Rumahmu. &lt;br /&gt;Nasehat (30): Waspadalah terhadap Bahaya Film. &lt;br /&gt;Nasehat (31): Berhati-hati dari Kejahatan Telepon. &lt;br /&gt;Nasehat (32): Wajib Menghilangkan Setiap Identitas - Apapun&lt;br /&gt;Bentuknya  -Agama Batil Orang-orang Kafir,&lt;br /&gt;Termasuk Sesembahan dan Tuhan Mereka. &lt;br /&gt;Nasehat (33): Menghilangkan Gambar-gambar Makhluk Bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat (34): Laranglah Merokok di  Rumahmu. &lt;br /&gt;Nasehat (35): Jangan Memelihara Anjing di Rumah. &lt;br /&gt;Nasehat (36): Menjauhi dari Menghias Rumah dengan Aneka&lt;br /&gt;Warna  (Berlebih-lebihan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RUMAH DIPANDANG DARI DALAM DAN DARI LUAR &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Nasehat (37): Memilih Lokasi dan Desain Rumah yang Tepat. &lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi, seorang muslim yang benar akan&lt;br /&gt;memperhatikan soal pemilihan letak dan lokasi rumah yang&lt;br /&gt;tepat. Ia akan menerapkan beberapa program bagi rumahnya&lt;br /&gt;sehingga layak sebagai hunian muslim. &lt;br /&gt;Dari segi lokasi, misalnya:&lt;br /&gt;Rumah hendaknya berdekatan dengan masjid. Hal ini sangat&lt;br /&gt;besar manfaatnya. Ketika adzan bergema memanggil shalat, ia&lt;br /&gt;bisa segera pergi ke masjid  dan mendapatkan jama'ah. Bagi&lt;br /&gt;para wanita, mereka akan biasa mendengarkan bacaan&lt;br /&gt;Al-Qur'an dari pengeras suara. Adapun anak-anak kecil,&lt;br /&gt;mereka bisa leluasa mengkuti halaqah hafalan Al-Qur'an,&lt;br /&gt;belajar mengaji dan sebagainya. &lt;br /&gt;Agar tidak dalam satu bangunan dengan orang-orang fasik,&lt;br /&gt;atau dalam kampung hunian yang terdapat orang-orang kafir,&lt;br /&gt;misalnya di tengah-tengah perkampungan itu ada kolam renang&lt;br /&gt;buat umum,  campur-baur antara pria wanita dan seumpamanya.&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Agar tidak melihat dan tidak terlihat, jika masih ada saja&lt;br /&gt;terjadi maka boleh menggunakan tabir atau dengan&lt;br /&gt;meninggikan pagar. &lt;br /&gt;Dari segi desain, misalnya:&lt;br /&gt;Hendaknya ia memperhatikan pemisahan antara laki-laki&lt;br /&gt;dengan perempuan dan para tamu luar , misalnya pintu masuk,&lt;br /&gt;ruang tempat duduk dsb. Jika tidak mungkin, maka bisa&lt;br /&gt;menggunakan tabir atau hijab. &lt;br /&gt;Menutupi jendela-jendela dengan tabir atau satir (gorden) ,&lt;br /&gt;sehingga orang yang ada di dalam kamar tidak kelihatan oleh&lt;br /&gt;tetangga atau oleh orang yang lalu lalang, terutama malam&lt;br /&gt;hari ketika cahaya terang benderang. &lt;br /&gt;Hendaknya tidak menggunakan toilet dengan menghadap ke&lt;br /&gt;kiblat. &lt;br /&gt;Hendaknya memilih rumah yang luas serta rumah yang banyak&lt;br /&gt;perabotannya. Hal itu disebabkan beberapa hal:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah suka bila melihat bekas nikmat-Nya pada&lt;br /&gt;hambaNya". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Tiga hal termasuk kebahagiaan dan tiga hal termasuk&lt;br /&gt;kesengsaraan. Termasuk kebahagiaan yaitu: wanita shalihah&lt;br /&gt;yang jika kamu melihatnya menyenangkanmu, ketika engkau&lt;br /&gt;pergi darinya kamu merasa aman atas dirinya dan atas&lt;br /&gt;hartamu,  dan hewan tunggangan sehingga ia menghantarkanmu&lt;br /&gt;menyusul kawan-kawanmu serta rumah yang luas dan banyak&lt;br /&gt;perabotannya. Dan termasuk kesengsaraan adalah wanita yang&lt;br /&gt;apabila kamu melihatnya maka engkau merasa enggan, ia&lt;br /&gt;menyerangmu dengan lisannya, jika engkau pergi darinya kamu&lt;br /&gt;tidak merasa aman atas dirinya dan atas hartamu; serta&lt;br /&gt;hewan yang lamban, jika engkau memukulnya maka akan&lt;br /&gt;melelahkanmu dan jika engkau meninggalkannya (tidak&lt;br /&gt;memukulnya) maka tidak menghantarkanmu menyusul&lt;br /&gt;kawan-kawanmu serta rumah yang sedikit perabotannya". &lt;br /&gt;Memperhatikan kesehatan, misalnya soal ventilasi udara dan&lt;br /&gt;masuknya cahaya matahari ke dalam rumah. &lt;br /&gt;Tetapi beberapa hal di atas dan hal-hal lainnya seyogyanya&lt;br /&gt;diukur sesuai dengan kemampuan material dan kondisi yang&lt;br /&gt;ada, tidak boleh dipaksakan. &lt;br /&gt;Nasehat (38): Memilih Tetangga sebelum Memilih Rumah. &lt;br /&gt;Karena pentingnya masalah ini, semestinya dibahas secara&lt;br /&gt;tersendiri sehingga agak mendetail. &lt;br /&gt;Tetangga pada zaman kita sekarang ini, memiliki pengaruh&lt;br /&gt;yang tidak kecil terhadap tetangga di sebelahnya. Karena&lt;br /&gt;saling berdekatannya rumah-rumah dan berkumpulnya mereka&lt;br /&gt;dalam flat-flat, kondominium atau apartemen. &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  mengabarkan,&lt;br /&gt;empat hal termasuk kebahagiaan, di antaranya tetangga yang&lt;br /&gt;baik. Beliau  juga menyebutkan empat hal termasuk&lt;br /&gt;kesengsaraan, di antaranya tetangga yang jahat. Karena&lt;br /&gt;bahayanya tetangga yang jahat ini, Rasulullah Shallallahu&lt;br /&gt;'alaihi wa sallam  berlindung kepada Allah daripadanya&lt;br /&gt;dengan berdo'a:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang jahat&lt;br /&gt;di rumah tempat tinggal, karena tetangga nomaden (hidup&lt;br /&gt;berpindah-pindah, termasuk di dalamnya kontrak beberapa&lt;br /&gt;waktu, pent) akan pindah". &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  memerintahkan&lt;br /&gt;umat Islam untuk berlindung pula daripadanya dengan&lt;br /&gt;mengatakan: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang jahat&lt;br /&gt;di rumah tempat tinggal, karena tetangga yang nomaden akan&lt;br /&gt;berpindah daripadamu". &lt;br /&gt;Dalam buku kecil ini, tentu tak memadai untuk menjelaskan&lt;br /&gt;secara rinci tentang pengaruh tetangga jahat terhadap suami&lt;br /&gt;isteri dan anak-anak, berbagai gangguan menyakitkan&lt;br /&gt;daripadanya, serta kesusahan hidup bersebelahan dengannya.&lt;br /&gt;Akan tetapi dengan mempraktekkan hadits-hadits yang telah&lt;br /&gt;lalu (dalam masalah bertetangga) sudah cukup bagi orang&lt;br /&gt;yang mau mengambil pelajaran. &lt;br /&gt;Mungkin di antara jalan pemecahannya yang kongkrit yaitu -&lt;br /&gt;seperti yang dipraktekkan oleh sebagian orang - dengan&lt;br /&gt;menyewakan rumah yang bersebelahan dengan tetangga jahat&lt;br /&gt;tersebut kepada orang-orang yang sekeluarga dengan mereka,&lt;br /&gt;meski untuk itu harus merugi dari sisi materi, karena&lt;br /&gt;sesungguhnya tetangga yang baik tak bisa dihargai dengan&lt;br /&gt;materi, berapapun besarnya. &lt;br /&gt;Nasehat (39): Memperhatikan Perbaikan yang Perlu serta&lt;br /&gt;Menyediakan&lt;br /&gt;                          Sarana Kenyamanan. &lt;br /&gt;Diantara nikmat Allah kepada kita di zaman sekarang ini&lt;br /&gt;yaitu diberikanNya kepada kita sarana-sarana kenyamanan&lt;br /&gt;sehingga memudahkan persoalan kehidupan kita di dunia, juga&lt;br /&gt;menghemat waktu. Seperti adanya AC (alat pendingin),lemari&lt;br /&gt;es/ mesin cuci dsb. &lt;br /&gt;Sebaiknya jika memiliki alat-alat seperti itu, kita tidak&lt;br /&gt;menggunakannya dengan boros dan mubadzir. Harus  pula bisa&lt;br /&gt;membedakan antara kebutuhan tertier (pelengkap) yang memang&lt;br /&gt;dibutuhkan dan bermanfaat dengan kebutuhan tertier yang&lt;br /&gt;tidak berguna. &lt;br /&gt;Diantara bentuk perhatian kepada rumah yaitu dengan&lt;br /&gt;memperbaiki perabot dan peralatan yang telah rusak.&lt;br /&gt;Sebagian orang meremehkannya, lalu isteri mereka mengeluh&lt;br /&gt;karena banyaknya serangga, sampah yang menumpuk sehingga&lt;br /&gt;menimbulkan bau tak sedap, di sana sini banyak perabot yang&lt;br /&gt;pecah dan barang-barang berserakan. &lt;br /&gt;Hal-hal di atas tak diragukan lagi, termasuk yang&lt;br /&gt;menghalangi terwujudnya kebahagiaan, menyebabkan persoalan&lt;br /&gt;rumah tangga dan kesehatan. Orang yang sehat akalnya tentu&lt;br /&gt;akan menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. &lt;br /&gt;Nasehat (40): Memperhatikan Kesehatan Anggota Keluarga dan&lt;br /&gt;                          Pengobatannya. &lt;br /&gt;Bila salah seorang dari anggota keluarga Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam  sakit, beliau memberi&lt;br /&gt;jampi-jampi dengan membaca surat-surat mu'awwidzat (surat&lt;br /&gt;Al-lkhlash, surat Al-Falaq dan surat An-Nas). &lt;br /&gt;Dan bila anggota keluarga beliau Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam sakit beliau menyuruh dibuatkan sup, lalu mereka pun&lt;br /&gt;disuruhnya menghirup sup tersebut. Beliau bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya sup itu menguatkan hati orang yang bersedih&lt;br /&gt;dan membuka hati orang yang sakit sebagaimana salah seorang&lt;br /&gt;dari kamu membersihkan kotoran dari wajahnya". &lt;br /&gt;Tentang beberapa cara tindakan preventif dan keselamatan;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Jika telah sore maka tahanlah anak-anak kalian (di&lt;br /&gt;rumah),karena sesungguhnya setan berkeliaran ketika itu.&lt;br /&gt;Dan jika sebagian malam telah berlalu maka biarkanlah&lt;br /&gt;mereka (keluar sebentar, jika hal itu sangat diperlukan),&lt;br /&gt;kuncilah pintu-pintu serta sebutlah nama Allah, dan&lt;br /&gt;tutuplah semua bejana serta sebutlah nama Allah,meskipun&lt;br /&gt;dengan meletakkan sesuatu (batang kayu, misalnya) di&lt;br /&gt;atasnya, dan matikanlah lampu-lampu kalian". &lt;br /&gt;Dalam riwayat Muslim disebutkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Kuncilah pintu-pintu kalian, tutuplah bejana-bejana&lt;br /&gt;kalian,matikanlah lampu-lampu kalian, eratkanlah tutup&lt;br /&gt;botol minuman  kalian. Karena sesungguhnya setan tidak&lt;br /&gt;membuka pintu yang terkunci, tidak membuka penutup, tidak&lt;br /&gt;melepas ikatan. Dan sesungguhnya tikus itu dapat&lt;br /&gt;menimbulkan kebakaran dirumah terhadap penghuninya". &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Janganlah kalian meninggalkan api di rumah kalian saat&lt;br /&gt;kalian sedang tidur".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harap Cantumkan, Dicopy dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Website “Yayasan Al-Sofwa?E&lt;br /&gt;Jl. Raya Lenteng Agung Barat, No.35 Jagakarsa, Jakarta -&lt;br /&gt;Selatan (12610)&lt;br /&gt;Telpon: (021)-788363-27 , Fax:(021)-788363-26 &lt;br /&gt; www.alsofwah.or.id  ; E-mail: info@alsofwah.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilarang Keras Memperbanyak Buku ini untuk diperjual&lt;br /&gt;belikan !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Terimakasih untuk adikku (AND), baik-baik ya de di rantau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5303191-94824683?l=mirai-he.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/94824683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/94824683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mirai-he.blogspot.com/2003_05_01_archive.html#94824683' title=''/><author><name>Ayunda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12752343010585067851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5303191.post-94619320</id><published>2003-05-19T22:37:00.000-07:00</published><updated>2003-05-19T22:37:47.783-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;alkimya as saadah(kimia kebahagiaan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Chandra kurniawan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika perjalanan begitu panjang. Sedang pertolongan Allah belum juga datang. Maka ujian dan fitnah akan lebih parah dan liat. Cobaan akan lebih genas dan lebih berat. Tidak ada yang tegar kecuali mereka yang dilindungi Allah. Merekalah, orang-orang yang bisa menancapkan iman di dalam jiwa. Yang bisa menjaga sebuah amanah besar: amanah langit untuk dijalankan di bumi. Amanah Allah di setiap mata hati manusia". (Asy Syahid Sayyid Quthb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika baru-baru ini saya pergi memancing, teman saya mengajukan berupa pertanyaan yang filosofis: "Bagaimana seseorang bisa memperoleh kebahagiaan sejati dalam hidup?" Mengapa ada orang yang bila didekatnya kita selalu merasa senang dan bahagia, sementara ada pula orang yang 5 menit didiekatnya sudah terasa seperti seminggu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentakan ikan seberat satu kilo pada pancing temanku menyebabkan pembicaraan kami terputus, tapi kini saya ingin melanjutkannya. Pertanyaan yang temanku ajukan itu adalah juga pertanyaan yang selalu saya cari jawabannya dalam sebagian besar hidup ini. Ada banyak teori mengenai ini. Tapi saya membaginya menjadi dua teori besar, teori atheis materialistis dan teori islami. Saya memandang teori atheis walaupun banyak dan berbeda-beda namun landasan dan tujuannya tetap sama. Kebahagiaan yang dicapai hanyalah kebahagiaan yang sifatnya semu dan terkesan parsial. Freud berpendapat kebahagiaan hidup itu dicapai melalui kenikmatan dalam bercinta (seksual). Menurut Adler hal itu dicapai dengan mengejar kekuasaan. Sedangkan Karl Marx masalah perut adalah masalah utama manusia dalam mengejar kebahagiaan. Hmm, apa yang kau pikirkan mengenai teori-teori miring ini? Apakah engkau akan memilih salah satu diantaranya (teori atheis) ataukah engkau mencampakkan teori-teori semu itu jauh-jauh dan beralih pada teori islam? Saya tidak memaksamu untuk mendalami dan terlibat dalam teori islam. Saya hanya mencoba berbagi cerita mengenai teori yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang membuat seseorang menjadi manusia? hmm, esensi yang pertama ialah iman yang melekat dalam jiwanya. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa "iman adalah kehidupan. Matinya iman adalah matinya kehidupan". Saya sangat yakin iman yang mantap dan kokoh akan menggerakkan akal pikiran, jasad dan ruh kita pada tindakan-tindakan terpuji. Bila kau memahami fakta itu, bertanggung jawab atas perilaku dan atas daya yang diberikan-Nya kepadamu, maka barulah kau benar-benar bisa menjalankan apa yang kau inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi yang kedua adalah kemerdekaan. Kemerdekaan macam apa yang dikehendaki? Jika kemerdekaan hanya sebatas hura-hura, menuruti hawa nafsu, bermaksiat ria, berkata dusta, dan sebagainya, maka hal itu bukanlah kemerdekaan. Engkau hanya menjadi budak yang menurut bagai kerbau dicucuk hidungnya. Coba engkau renungkan sebuah contoh. Saya akan mengambil contoh mengenai diri saya sendiri. Suatu ketika saya pernah berkata dusta pada ayah. Dusta itu saya tutup-tutupi, kemanapun saya bawa dan sembunyikan. Saya berupaya membungkusnya rapi-rapi dan menutup-nutupi baunya dengan minyak wangi kemunafikan. Saya benar-benar terbebani waktu itu. Hati kecil saya terus berteriak dan teriakan itu semakin besar bergema ditelinga sehingga selepas sholat saya menangis sejadi-jadinya, setelah itu saya jatuh pingsan tepat di pintu dapur. Ayah, mama dan saudara-saudara saya mengkhawatirkan keadaan saya yang terlihat pucat. Selama beberapa hari saya berbaring di tempat tidur. Tubuh saya lemas, tak ada lagi selera makan, saya hanya mampu melamun. Lama kelamaan teriakan-teriakan itu semakin kuat menyentak hatiku. Hingga pada suatu ketika dengan tekad membaja, "Ya Allah selamatkanlah aku". Akhirnya saya utarakan kalimat-kalimat kejujuran dan menyibak kebohongan-kebohongan yang pernah saya katakan. Pada awalnya ayah sangat marah dan tidak mau menegurku seharian begitupun dengan yang lainnya, mereka semua menjauhiku. Tapi tak mengapa, yang penting aku telah berkata benar dan semua itu saya anggap sebagai batu ujian peningkatan iman kepada Allah Rabbul Izzati. Saya hanya terus beristighfar dan dalam semua itu saya bahagia, seolah saya telah bebas dari penjari durjana itu. Sekarang saya bebas berpikir, bebas bergerak, bebas berdakwah dan ber-amar maruf nahi munkar. Inilah kemerdekaan sejati yang hanya ada didalam takwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara niat dan manis bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satukan didalam satu denyutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana jiwamu pasti bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali bersemi insani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafazlah setulus hati nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukakan maksud tersimpan dihati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun pedih menyiksa naluri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nawaitu tuntutan batin suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahlah engkau selindungkan bayangmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungi asal kejadian dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan tunduk bukan arti kau kalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebalkanlah serata jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan insani sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencerminkan budi pekerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesungguhan menyingkap makhfi (rahasia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran diri yang suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya jiwa tulus mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanisan nawaitu hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangan dalam mencari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keredhoan darimu Tuhanku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Syair Nasyid Rabbani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan memainkan peranan yang paling mendasar dalam perkembangan semangat seseorang; tapi tak banyak orang yang menyadari hal itu. Hanya sedikit saja yang menyadari kemerdekaan yang masing-masing kita jalankan setiap kali kita menolak atau menerima suatu naluri. Inti kekuatan didalam setiap manusia adalah kemerdekaan untuk memilih bagaimana ia harus menanggapi tantangan dalam hidup ini. Bila kepadamu disodorkan pekerjaan yang sulit, maka kau bisa memutuskan apakah kau mengeluhkan pekerjaan itu dan nasibmu dalam hidup ini, atau kau berkata dalam hati, "ini pekerjaan yang sulit dan tidak enak, tapi aku akan melakukannya, dan melakukannya dengan sebaik-baiknya". Jika kau menerima atau memilih untuk menerima sikap yang terakhir, maka hal itu akan menyebabkan pekerjaanmu menjadi lebih ringan untuk dilakukan, dan yang lebih penting lagi, pada akhirnya hal itu akan memberikan kepuasan karena kita telah mencapai sesuatu. Menemukan dan menjalankan dengan sepenuhnya kemerdekaan untuk memilih sikap terhadap tantangan hidup, akan sangat mempengaruhi keberhasilanmu dalam mengejar kebahagiaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggenggam iman dan menjalankan kemerdekaan untuk bersikap, maka kau akan lebih mudah mengenali, menerima dan menunaikan tanggung jawab hidup. Saya melihat bahwa orang yang menerima tanggung jawabnya adalah orang yang memanfaatkan hidup sebaik-baiknya. Kemudian saya juga melihat bahwa, orang yang memiliki ketakutan inheren dalam menerima tanggung jawabnya adalah juga orang yang takut terhadap kegagalan. Saya selalu mengingatkan orang-orang seperti itu bahwa mencoba dan gagal bukanlah sesuatu yang hina; justru tidak mencoba adalah hal yang celaka. Menerima tanggung jawab berarti menerima tantangan; dan menerima tantangan berarti membuka pintu lebar-lebar tempat masuknya prestasi yang penuh kemenangan dalam hidup ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sejarah islam, yang dipenuhi dengan tokoh-tokoh kemanusiaan, kebaikan dan mujahid-mujahid yang tangguh, berarti membaca kisah yang digores dengan "tinta emas", kisah kebahagiaan yang utuh dan semangat akan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya. Tak ada yang bisa ditahan atau dibelokkan oleh sesama manusia. semua mengemudikan perjalanan hidup ini berdasarkan kompas keimanan didalam hatinya yang senantiasa menunjuk kemerdekaan pada perbudakan selain-Nya. Dalam membaca kisah mengenai kehidupan orang-orang besar ini, mengenai kegagalan dan kekecewaan yang mereka atasi dalam pendakiannya kepuncak keberhasilan, saya selalu kagum dengan kegigihan, keberanian dan kebesaran mereka. Jalan menuju ke puncak kebesaran itu sukar. Dan pada masa sekarang ini, jalan itu masih tetap sama sukarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil keputusan-keputusan penting adalah titik yang menentukan besarnya nilai hidupmu setelah itu. Pada setiap persimpangan jalan kehidupan, kau harus memilih arah yang dijalani. Tapi keputusan lebih penting lagi adalah bahwa jalan ini itu harus kau jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini banyak sekali orang terutama orang muda yang merasa hidupnya tak bahagia dan kurang bermakna. Mungkin hal ini terutama disebabkan kurangnya sasaran. Tanpa sasaran, maka tak mungkin ada pencapaian atau prestasi yang bisa memberikan kebahagiaan kepada mereka. Karena alasan tertentu, mereka tak bisa memanfaatkan daya potensi dari kemampuannya. Dan karena alasan-alasan tertentu jugalah, maka pada suatu ketika, tak pelak lagi, mereka pasti memandang dirinya pada cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berkata bahwa penyebab kemalasan dan ketidakpuasan ini terutama adalah standar hidup kita yang relatif tinggi. Ya, hal ini bukan hal yang baru. Dalam kebudayaan Yunani, Romawi dan kebudayaan-kebudayaan lainnya, orang-orang muda dan orang-orang dewasanya juga pernah mengalami kegelisahan dan ketidakbahagiaan. Kalau begitu penyebabnya bukanlah tingginya standar hidup, tapi penyebabnya adalah kegagalan dalam membentuk pola keseimbangan dan keteraturan, kegagalan dalam mempertahankan keimanan, dan kegagalan dalam melepas belenggu penjajahan hawa nafsu. Bila semua ini telah ada pada hidup seseorang, maka barulah eksistensinya mempunyai arti dan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapat kesan bahwa daripada bergumul secara terhormat dalam mempertahankan dan memperluas zona keamanan hidup, banyak orang sekarang cenderung berlari berlari kepada rasa aman yang semu yang diciptakan oleh angan-angan kosong tentang hakikat-hakikat yang sebenarnya tidak pernah ada dan tidak pernah mewujud menjadi kenyataan. Karena tak pernah mengalami keberhasilan dan kegagalan dalam jumlah yang memadai, maka mereka tak mempunyai cadangan yang bisa dipergunakan bila memasuki wilayah-wilayah yang berat. Jiwa-jiwa yang malang ini tidak mengetahui bahwa penawar satu-satunya terhadap berbagai kesukaran berasal dari dalam dirinya, dari kemerdekaan memilih yang ada pada kita masing-masing, dalam memutuskan mana sikap yang harus diambil yang positif atau yang negatif terhadap berbagai benturan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti bersembunyi, membaca buku atau menonton film-film yang menggambarkan para pahlawan yang meraih prestasi fiktif dalam kehidupan. Mereka puas bila orang lain atau tokoh rekaan itu yang melakukan hal-hal kehidupan yang sebenarnya ingin mereka lakukan, tapi mereka tak pernah mencobanya. Sungguh suatu hal yang menyedihkan. Apa obatnya? Ambillah buku-buku non fiksi, pelajarilah apa yang telah dicapai atau sedang dicapai oleh manusia-manusia nyata itu dalam hidupnya, dan katakanlah kepada dirimu, "Hei! Mengapa saya tidak?". Tapi ada suatu yang perlu dicatat disini tebal-tebal: "Lihatlah perjuangan mereka dari awal hingga akhir, bukan akhirnya saja. Jika engkau menginginkan akhirnya saja (keberhasilan) tanpa melihat awal yang melelahkan dan penuh pengorbanan, maka engkau akan hancur!", demikian penuturan seorang filosof islam ternama, Al Kindi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat pengorbanan adalah prestasi, dan prestasi adalah kebahagiaan. Saya bangun pagi (shubuh) untuk sholat. Sebuah perjuangan yang berat dan membutuhkan pengorbanan akan akan hawa nafsu kita yang mengatakan sebaliknya. Apa yang kau rasakan setelah menegakkannya? Bukankah kebahagiaan yang murni dari Allah tanpa campuran dan noktah didalamnya? Kebahagiaan tidak mungkin datang bila kau hanya duduk-duduk dan mengatakan pada diri sendiri bahwa kau ingin bahagia kecuali tentu, kalau hal itu mengenai kesehatan atau keluargamu yang memang baik. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa kau ciptakan dari sesuatu yang tidak ada atau dari sasaran-sasaran material ataupun dari hal-hal mendasar yang ada disekitarmu. Kebahagiaan sejati itu datang pada saat kita meraih suatu sasaran yang telah kita ciptakan untuk diri sendiri. Sasaran itu bisa sesuatu yang sederhana seperti membersihkan halaman, atau bisa pula sesuatu yang hebat misalnya dipilih oleh sesama manusia untuk memangku jabatan tertentu. Kebahagiaan itu juga bisa diperoleh karena menolong seseorang sahabat, atau yang lebih baik lagi, seseorang yang tidak kau kenal. Ia juga bisa karena meraih angka yang baik disekolah, belajar mengendarai kendaraan (saya belum bisa nyetir mobil), dan masih banyak lagi. Kebahagiaan adalah berbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi makna kepada kehidupan berarti memberi kualitas-kualitas kepada rentetan-rentetan hidup. Suatu saat tertentu, suatu tugas tertentu dapat memberikan makna kepada hidup. Menghadapi hari-hari yang baik dan hari-hari yang jelek dengan tekad yang sama untuk melakukan prestasi dengan sebaik mungkin bisa memberikan makna kepada hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai hidup bukan terletak pada panjangnya hari-hari tapi dari penggunaan kita atas hari-hari itu. Seseorang bisa saja berumur panjang, tapi hanya sedikit memperoleh hidup; itu tidak tergantung pada deretan tahun-tahunmu, tapi pada kemauanmu. Wallahu Alam Bish showwab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kau bahagia&lt;br /&gt;Teman yang tak ingin mengguruimu&lt;br /&gt;Al Fakir Ilallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan diatas terinspirasi dari buku-buku:&lt;br /&gt;      -Hijrah Paripurna karya Imam Ibnul Qoyyim &lt;br /&gt;      -Thoriqoh Menuju Kebahagiaan karya Imam Abdullah Al Hadad &lt;br /&gt;      -Menuju Kesempurnaan Hidup karya Imam Abdullah Al Hadad &lt;br /&gt;      -Perbaharuilah Hidupmu karya DR. Muhammad Al Ghazali &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Terimakasih untuk adikku ( Chand ) Tetaplah berkarya,lahirkan karya-karya yang berguna untuk kemajuan umat .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5303191-94619320?l=mirai-he.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/94619320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/94619320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mirai-he.blogspot.com/2003_05_01_archive.html#94619320' title=''/><author><name>Ayunda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12752343010585067851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5303191.post-94608276</id><published>2003-05-19T18:10:00.000-07:00</published><updated>2003-05-19T18:10:11.803-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;PENGANTAR TAFSIR FI ZHILALIL QUR'AN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Oleh : Asy-Syahid Sayyid Quthub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bismillahirrohmanirohiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Hidup dibawah naungan Al-Qur'an adalah nikmat. Nikmat yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang pernah menghayatinya. Nikmat yang meningkatkan, memberkati dan membersihkan kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Alhamdulillah, aku telah diberi kesempatan merasakan nikmat hidup di bawah naungan Al-Qur'an itu, suatu nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku rasakan bagaimana nikmat itu telah mengangkat, memberkahi dan membersihkan kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Aku dengar Allah subhanahu berkata kepadaku melalui Al-Qur'an ini, padahal aku hanya seorang hamba yang kecil dan kerdil , Apakah ada kemuliaan yang lebih tinggi daripada kemuliaan yang datang dari Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia ini ,  Apakah ada peningkatan kehidupan yang lebih bernilai seperti yang telah diangkat oleh Al-Qur'an ini ,  Apakah ada posisi yang lebih terhormat daripada yang telah dianugerahkan oleh Maha Pencipta sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dalam menghadapi hidup begini di bawah naungan Al-Qur'an aku memandang dari atas; kulihat kejahilan menari-nari di muka bumi, aku perhatikan manusia-manusia jahil itu begitu kerdil dan sempit. Aku pandangi dengan heran; pengetahuan yang dimiliki oleh manusia-manusia jahil ini tak lebih dari pengetahuan kanak-kanak; ibarat orang dewasa melihat anak-anak main kejar-kejaran dan berteriak-teriak ! ku heran ada apa dengan manusia ini ? kenapa mereka masih saja mau menggelimangkan diri dalam lumpur-lumpur yang kumal. Kenapa mereka tidak mau mendengar seruan yang tinggi dan mulia,&lt;br /&gt;seruan yang pasti meningkatkan kehidupan mereka, memberkati dan membersihkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Aku jalani kehidupan ini dibawah naungan Al-Qur'an dengan mengikuti ide tentang wujud yang begitu sempurna. lengkap, tajam, tinggi dan bersih.. demi seluruh wujud dan demi wujudnya manusia itu sendiri aku bandingkan dengan pandangan hidup jahiliyah yang dilaksanakan manusia baik yang di timur, di barat, di utara dan di selatan. Aku bertanya ?  kenapa manusia masih mau hidup di rawa-rawa busuk, di kerak jahiliyah yang meluncur turun, dalam kegelapan yang begitu pekat; padahal mereka memiliki lapangan yang bersih, punya tangga yang selalu mengangkat naik, dan punya cahaya yang cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Aku jalani kehidupan ini ¡¦di bawah naungan Al-Qur'an , aku rasakan betapa indahnya keserasian antara manusia, sebagaimana yang dikehendaki Allah dengan gerak alam yang diciptakanNya. Selanjutnya kuarahkan pandangan kepada kehidupan jahiliyah kulihat kekacaubalauan yang diderita manusia karena melenceng dari sunnah alam; kulihat bentrokan-bentrokan yang terjadi dalam diri manusia, antara pengarahan-pengarahan yang merusak dan kejam tapi justru diamalkan, dengan fitrahnya sendiri seperti yang telah digariskan Allah. Aku bergumam: Setan celaka mana yang telah menggiring manusia menuju jahannam ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Alangkah meruginya manusia!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Aku jalani kehidupan ini ¡¦di bawah naungan Al-Qur'an , aku lihat bahwa wujud alam semesta ini jauh lebih besar daripada kenyataannya, lebih agung dari segala aspeknya , Alam itu ialah alam nyata dan alam gaib, bukan hanya alam semesta. Kehadiran manusia hanyalah merupakan kelanjutan dari proses-proses alam yang terus melanjut dan mati bukanlah akhir perjalanan, tetapi bagian dari proses tersebut. Apa yang dicapai manusia di dunia ini bukanlah keseluruhan nasibnya, tetapi bagian dari nasib yang masih berlanjut. Apa yang luput dari seseorang di dunia ini tidak akan luput sama sekali dari dirinya di alam sana; tidak ada yang dizalimi, tak ada yang dirugikan, tak ada yang disia-siakan , dengan kesadaran bahwa fase kehidupan yang ditempuh manusia di atas planet bumi ini adalah satu perjalanan di atas alam, alam yang hidup dan nyaman, alam yang berteman dan bersahabat, alam yang punya roh, alam yang tanggap dan peka, alam yang selalu menyerah kepada Khaliq Yang Maha Esa; yang justru kepada-Nya pula menyerah roh yang beriman dengan penuh kerendahan dan ketundukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kepada Allah-lah sujud apa yang ada di bumi dan langit, suka atau tidak suka, berikut bayang-bayangnya, tiap pagi dan petang.(Ar-Raau 15).Kepada-Nya bertasbih tujuh langit dan bumi dengan segala isinya, tidak satupun yang tidak bertasbih memuja-Nya (Al-Isra 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kelapangan mana, keamanan mana, kemantapan mana, kelegaan mana yang dapat&lt;br /&gt;dirasakan hati lebih daripada yang dicurahkan oleh gambaran-gambaran yang begitu sempurna, menyeluruh, luas dan tepat ini.&lt;br /&gt;      Aku jalani kehidupan ini di bawah naungan Al-Qur'an dan aku melihat bahwa manusia itu jauh lebih mulia dari segala penilaian yang pernah dan bakal dikenal oleh kemanusiaan , manusia itu adalah insan yang mendapat tiupan roh Allah: Maka bila Aku sempurnakan kejadiannya, aku tiupkan roh-Ku; lalu dia menelungkup sujud kepada-Nya.(Al-Hijr 29) Dengan tiupan roh ini, jadilah manusia itu khalifah di bumi ini: Dan ketika Robbmu berkata kepada malaikat: Aku ciptakan di bumi khalifah.(Al-Baqarah 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selanjutnya disiapkanlah untuk manusia itu semua yang ada di bumi:Dia persiapkan untukmu apa yang di bumi seluruhnya.(Al-Jatsiyah 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Di samping kemuliaan dan ketinggian yang dicurahkan kepada manusia itu, Allah memberkahinya pula dengan satu ikatan, yang dengan ikatan itu manusia berkumpul; ikatan yang lahir dari tiupan ilahi tadi. Ikatan itu adalah ikatan aqidah. Oleh sebab itu, bagi seorang mukmin aqidah itulah tanah airnya, itulah bangsanya, itulah kaumnya selanjutnya hanya dengan ikatan aqidah itu sajalah manusia itu bersatu; bukan seperti bersatunya ternak yang berkumpul karena rumput, karena gembala, atau karena kandang dan pagar&lt;br /&gt;     Seorang mukmin itu punya tali keturunan yang panjang dan berakar, telah berlalu melewati banyak fasse dan zaman; namun dia tetap bagian dari satu kesatuan, dituntun dan dipimpin oleh manusia-manusia mulia: Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaaqub, Yusuf, Musa, Isa, Muhammad s.a.w.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sesungguhnya inilah umatmu, umat yang satu, dan Akulah Robmu; oleh sebab&lt;br /&gt;itu berubudiyahlah kepada-Ku.(Al-Anbiya 92). Kesatuan yang telah berkembang melewati berbagai fase ini, selalu menghadapi sebagaimana tampak jelas di bawah naungan Al-Qur'an ini .problema yang sama, menempati posisi yang sama, dan menjalani pengalaman yang sama di sepanjang masa dan di setiap waktu; walaupun tempat berbeda dan bangsa telah beragam .Setiap waktu ia menghadapi kesesatan, kekejaman dan hawa nafsu, menghadapi tekanan dan paksaan, menghadapi ancaman dan pengucilan, Namun dia tetap berjalan di jalurnya, mantap langkahnya, tenang,yakin dengan kemenangan dari Allah serta terpaut dengan harapan ini, dan tetap percaya bahwa janji Allah itu benar dan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Berkata orang-orang kafir kepada rasul-rasul mereka: kami benar-benar akan mengusirmu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami. Lalu Rob mereka mewahyukan: Pasti akan Kami hancurkan orang-orang yang zalim; dan Kami akan menempatkan kamu di negeri ini sesudah mereka. Semua itu diperuntukkan bagi orang-orang yang takut kepada keagungan posisiKu dan takut kepada janji siksaKu.(Ibrahim 13-14).&lt;br /&gt;      Satu posisi, satu pengalaman, satu ancaman, satu keyakinan, dan satu janji; berlaku untuk seluruh kesatuan ini .Dan selanjutnya, satu pula perolehan hasil yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang beriman, walaupun untuk itu mereka harus menghadapi tekanan-tekanan, ancaman-ancaman, dan kekejaman-kekejaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dibawah naungan Al_qur'an ini aku belajar bahwa tak ada tempat di alam ini bagi suatu kebetulan, tak ada ruang untuk suatu surprise: Kami ciptakan segala sesuatu dengan ukuran-ukuran yang pasti,(Al-Qomar 49)&lt;br /&gt;    Dia ciptakan segala sesuatu dan Dia pula yang menentukan kejadiannya dengan tepat.(Al-Furqan 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Segala sesuatu ada hikmahnya; namun hikmah gaib yang begitu dalam tidak dapat diungkapkan oleh pandangan manusia yang begitu pendek: Mungkin saja kamu tidak menyukai sesuatu namun di situ pula Allah menjadikan kebaikan yang banyak.(An Nisa 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Mungkin kamu membenci sesuatu tetapi dia baik untukmu dan mungkin pula kamu menyenangi sesuatu tetapi dia tidak baik untukmu. Allah lah yang Maha Tahu, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah 216)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sebab-sebab yang dikenal manusia, kadang-kadang mendatangkan akibat seperti yang diperhitungkannya, dan kadangkala tidak. Dalil-dalil yang dianggap manusia pasti, kadang-kadang memberikan hasil yang cocok,kadangkala tidak. Bukanlah sebab-sebab dan dalil-dalil itu yang menentukan untuk timbulnya akibat dan hasil, tapi yang mutlak menentukan adalah iradah Allah. Dia yang menentukan hasil dan akibat itu sebagaimana juga Dia yang menumbuhkan sebab-sebab dan dalil-dalil itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tidak ada yang tahu, mungkin saja Allah menjadikan di balik semua itu sesuatu yang lain.(Ath-Thalaq 1 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin kamu mencapai keinginan kamu kecuali kalau Allah menghendakinya pula.(Al-Insan 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Seorang mukmin harus membuat sebab, karena dia memang diperintah untuk itu, sedang yang menentukan hasil dan akibatnya adalah Allah jua,Tenteram dengan rahmat dan keadilanNya ini, tenang dengan hikmah dan ilmunya ini, itulah satu-satunya kenikmatan yang mutlak, bebas dari segala ketakutan dan keragu-raguan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Setan telah mempersiapkan kamu untuk kefakiran dan menyuruhmu berbuat jahat; sedang Allah mempersiapkan untukmu keampunan dan keutamaan.Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. (Al-Baqarah 268).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Selanjutnya, aku telah menjalani kehidupan di bawah naungan Al-Qur'an ini dengan pribadi yang tenang, dengan hati yang lega, dan perasaan yang mantap, Kulihat tangan Allah ada dalam setiap peristiwa dan segala masalah.Kujalani kehidupan ini dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah. Dalam kehidupan itu aku merasakan betapa positif dan aktifnya sifat-sifat Allah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Siapakah yang memperkenankan do'a orang yang dalam kesulitan dan menghilangkan kesusahannya ?  (An-Naml 62).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalah Yang Maha Kuasa atas hamba-hambaNya dan Dialah yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu.(Al-Anam 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Maha Mampu berbuat apa saja yang dikehendakiNya.(Hud 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah akan dibukakan Allah baginya jalan&lt;br /&gt;keluar - dari kesulitan dan dia akan mendapat rezki dari sumber yang tidak diperhitungkannya. Siapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dia akan mencukupkan kebutuhannya. Sungguh Allah menjadikan segala sesuatu menurut ukurannya.(Ath Thalaq 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Bukankah Allah cukup sebagai pelindung bagi hamba-Nya, walaupun mereka menakut-nakutimu dengan yang selainNya.(Az-Zumar 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Semua wujud di alam ini tidaklah diserahkan begitu saja kepada hukum-hukum alam seperti mesin yang bergerak otomatis;tetapi di balik hukum-hukum itu ada hukum lain, yaitu iradah yang mengatur dan mutlak. Allah mewujudkan apa saja yang di kehendakiNya, dan Dia pula yang memilih.&lt;br /&gt;     Demikianlah aku belajar dan mengetahu bahwa tangan Allah itu tetap terus bekerja, bekerja dengan caraNya sendiri. Kita tidak boleh mendesakNya, atau mengusulkan sesuatu kepadaNya. Metode ilahi ini seperti yang tampak jelas di bawah naungan Al-Qur'an telah dipersiapkan untuk berfungsi di segala lingkungan dan di setiap fase perkembangan hidup manusia, dan untuk semua keadaan kejiwaan manusia; karena dia memang tunggal, Metode itu memang dipersiapkan khusus untuk manusia yang hidup di bumi ini, disesuaikan dengan fitrahnya, cocok dengan kemampuan dan kesiapan dirinya sebagai manusia, dan serasi dengan segaala perobahan yang mungkin ditemui. Ada yang mengira bahwa metode ini tidak berfungsi, lalu dia mengecilkan peran manusia di muka bumi atau dia hancurkan nilai-nilai kemanusiaan dalam salah satu bentuk kehidupan, baik sebagai diri pribadi atau sebagai anggota suatu kelompok sebaliknya ada yang berkhayal ingin meningkatkan makhluk ini lebih dari kemampuannya, melewati batas kesanggupannya, dan keluar dari fungsinya sebagaimana yang telah digariskan Allah sejak semula. Dalam kedua keadaan ini faktor fitrah dianggap begitu sederhana, dapat dibentuk dengan peraturan-peraturan atau ditumbuhkan dengan ide-ide yang ditulis diatas kertas.  Manusia adalah manusia dengan seluruh fitrahnya, dengan segala kecenderungannya, dengan semua kesiapan dirinya. Itulah manusia yang akan dituntun oleh metode ilahi ini, untuk selanjutnya diangkat semaksimal mungkin ke posisi kesempurnaan yang telah digariskan untuknya dan memang sesuai dengan kejadian fungsi dirinya. Metode ini menghargai sekali diri manusia, menghormati fitrah dan kemampuannya; membimbinganya terus di jalur yang sempurna, menuju Allah. Selain dari itu, metode ilahi ini dipersiapkan untuk diketahui pasti oleh yang menciptakan manusia itu sendiri dan yang menurunkan Al-Qur'an. Oleh sebab itu janganlah dipaksakan, janganlah bergegas dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang mulia dari metode ini. Ruang waktu begitu luasnya, tak mungkin direka dengan umur seseorang, tak bisa diatasi oleh keinginan-keinginan yang bersifat fana; karena takut di dalam mencapai tujuan-tujuan itu maut lebih dahulu datang. Seperti yang selalu terjadi pada pengikut mazhab-mazhab sekuler, memaksakan idenya dalam satu generasi, dengan mengenyampingkan fitrah; karena tak sabar dengan langkah-langkah fitrah yang justru amat serasi itu ! Dalam perjalanan yang mereka paksakan itu, mereka dihadang oleh perampok-perampok; yang mengalirkan darah, runtuh semua nilai, dan segala-galanya jadi berantakan.&lt;br /&gt;     Akhirnya ide-ide mereka itu dihantam oleh palu-palu fitrah yang tadinya tidak diperhitungkan oleh mazhab yang dipaksakan itu ! Sedang islam, berjalan mulus, seiring dengan fitrah, kadang-kadang mendorong,kadang-kadang melindungi, bila condong ditegakkannya; namun tidak pernah mematahkan atau menghancurkan fitrah. Dia bersifat tabah, seperti tabahnya orang-orang yang tahu dan yakin dengan tujuan yang telah digariskan. Apa yang tak dapat disempurnakan pada periode sekarang, disempurnakan pada periode kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus, keseribu, Zaman berkembang,namun tujuan tetap jelas; jalan menuju tujuan besar itu pun amat panjang. Ibarat tumbuhnya sebatang pohon yang menjulang tinggi, akarnya terhunjam dalam tanah, bercabang dan beranting yang saling berjalin. Demikianlah islam itu tumbuh dan berkembang dengan pelan, mulus, dan mantap. Akhirnya iradah Allah jualah yang berlaku! Tanaman itu kadang-kadang tertimbun pasir, atau dimakan ulat, atau dibakar kekeringan atau digenangi air. Tetapi petani yang sadar, tahu betul bahwa kebun harus tetap wujud dan berkembang. Dia akan berusaha mengalahkan segala hama walaupun akan memakan waktu yang lama. Dia tidak akan memaksakan kehendaknya, dan tidak panik. Dia tidak akan berupaya mematangkan bung dan serasi, fitrah yang penuh toleransi dan bersahabat. Itulah dia metode ilahi, berlaku untuk seluruh alam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tidak akan kamu temui sunnatullah itu bakal berobah.(Al-Ahzab 62).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang haq atau yang benar itu hanya ada dalam metode Allah ini. Dialah yang mendasari bangunan alam ini; bukan peristiwa acak (random), bukan pula kebetulan-kebetulan tanpa arah . Allah subhanahu, itulah yang haq, dan dari wujudNyalah bersumber segala yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Yang demikian itu hanya karena Dialah yang haq. Apa saja yang mereka seru selain Allah adalah bathil. Dan sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi dan Maha Besar.(Luqman 30).  Allah telah menciptakan alam ini dengan haq, tidak bercampur aduk dengan yang bathil. Allah tidak menjadikan semua itu semua kecuali dengan yang haq.(Ali Imran 91)&lt;br /&gt;    Jadi haq itu adalah tiang dari segala wujud alam ini. Apabila ada penyimpangan dari yang haq itu, akan timbullah kerusakan dan kebinasaan :Lalaulah yang haq mengikuti hawa nafsu mereka, akan hancurlah langit dan bumi ini dengan segala isinya.(Al-MuÃÎin 71).&lt;br /&gt;      Karena itu yang haq itu harus muncul, yang bathil harus lenyap, Apapun gejala yang tak sesuai dengan ketentuan ini maka akibatnya jelas,seperti yang diungkap oleh ayat :&lt;br /&gt;Ialah Kami akan menghantamkan yang haq kepada yang bathil,menghancurkannya dan yang bathil itu tiba-tiba akan lenyap.(Al-Anbiya 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kebaikan (al-khair), kepatutan (ash-sholahu), dan kebajikan (al-ihsan) adalah juga pokok utama, seperti halnya yang haq itu, dia akan tetap wujud abadi di muka bumi ini.&lt;br /&gt;Dia telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air itu dilembah-lembah sesuai dengan ukurannya. Arus air itu membawa buih. Dan apa-apa yang mereka bakar di atas api untuk mendapatkan perhiasan dan alat-alat adalah semisal buih itu juga.        Demikianlah Allah membuat perumpamaan, mana yang haq dan mana yang bathil; adapun buih itu akan hilang lenyap karena tidak ada nilainya, sedang yang memberi faedah pada manusia akan tetap tinggal di bumi. Demikianlah cara Allah menjelaskan dengan perumpamaan (Ar-Raau 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang kalimat yang baik dengan pohon yang baik. Akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit; pohon itu memberikan buahnya pada waktu-waktu tertentu dengan seizin Rob nya. Allah membuat perumpamaan itu kepada manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan untuk kalimat yang jelek adalah seperti pohon yang jelek, akarnya telah tercabut dari tanah, tidak pernah mantap. Allah meneguhkan orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan menyesatkan orang-orang yang zalim.Dan Allah Maha Mampu berbuat apa saja yang di kehendakiNya.(Ibrahim 24-27) &lt;br /&gt;     Alangkah agungnya ketenangan yang ditumbuhkan oleh konsep ini. Alangkah tegarnya kemantapan yang dituangkannya ke dalam hati. Alangkah tegasnya keyakinan yang diberikannya tentang haq, tentang kebajikan, tentang kebaikan. Alangkah hebatnya daya dan kemampuan menguasai alam yang kerdil ini, yang dipaterikannya dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Akhirnya, sampailah aku pada keyakinan yang mantap! Tidak bakal ada kebaikan di muka bumi ini, tidak akan pernah wujud ketenangan diri, tak ada kemantapan, tak ada peningkatan, tak ada keberkatan, tak ada kesucian, tak ada keserasian antara alam dan fitrah hidup; kecuali dengan kembali kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kembali kepada Allah sebagai yang yang tampak di bawah naungan Al-Qur'an hanya punya satu bentuk dan hanya dengan satu cara, satu dan satu! yaitu dengan mengembalikan seluruh gerak kehidupan ini pada Metode Allah yang telah digariskan di dalam kitabNya untuk manusia. Tegasnya, menjadikan Kitab Allah satu-satunya sumber dalam kehidupan, dan mengembalikan masalah hanya kepadaNya. Bila tidak demikian, berarti kebinasaanlah yang bakal terjadi di muka bumi ini, malapetaka bagi manusia, kembali terjerumus ke dalam lumpur kegelapan dan jahiliyah yang mengabdi kepada nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Seandainya mereka tidak tanggap kepadamu, ketahuilah bahwa mereka sungguh-sungguh telah mengikuti hawa nafsu mereka. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti nafsunya di luar petunjuk ! Sungguh Allah tidak akan menunjuki kaum yang zalim.(Al-Qoshosh 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mempedomani metoda Allah melalui kitabNya, bukanlah sekedar perbuatan sunah atau suatu pilihan. Masalahnya adalah iman! atau tidak iman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tidak boleh seorang mukmin pun, laki-laki atau perempuan, kalau Allah dan RasulNya telah membuat suatu keputusan, tidak boleh mereka mencari pilihan lain dari masalah mereka.(Al-Ahzab 36)&lt;br /&gt;      Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas satu syari`at. Ikutilah syari`at itu, jangan kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak tahu. Sama sekali mereka tak akan mampu menolah azab Allah atas dirimu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu saling menolong sesamanya. Dan Allah lah pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa(Al-Jatsiyah 18-19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jadi, masalah ini adalah masalah serius ! masalah aqidah yang mendasar ! masalah bahagia atau celaka !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Manusia itu sendiri yang dirinya diciptakan Allah tidak bakal mampu&lt;br /&gt;membuka pintu-pintu fitrahnya, kecuali dengan kunci-kunci yang juga hanya &lt;br /&gt;diciptakan Allah. Manusia tak sanggup mengobati penyakitnya, kecuali dengan obat yang diramu oleh tangan Allah. Dia telah menentukan bahwa kunci pembuka segala pintu dan obat segala penyakit itu ada pada metodeNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kami turunkan Al-Qur'an ini sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang mukmin (Al-Isr 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sungguh Al-Qur'an ini menunjuki orang-orang yang berjalan mantap.(Al-Isra 9)&lt;br /&gt;      Tetapi, manusia tidak mau mengambil kunci itu dari yang membuatnya, tak hendak berobat kepada yang menciptakannya. Dalam masalah diri, dalam urusan kemanusiaan, dalam menentukan celaka dan bahagia, manusia tak mau menempuh jalan seperti yang biasa ia lakukan dalam menanggulangi masalah alat atau pesawat yang banyak dipergunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia &lt;br /&gt;tahu bahwa untuk memperbaiki pesawat yang rusak dia akan memanggil insinyur yang menciptakan pesawat itu. Namun ia tak mau menerapkan prinsip ini untuk dirinya sendiri. Dia tak mau membawa dirinya kepada yang menciptakannya, dia tidak mau konsultasi dengan pesawat aneh ini, pesawat diri yang begitu&lt;br /&gt;agung, rumit, dan halus. Tak seorangpun yang mengetahui kunci-kunci pesawat itu kecuali yang mengadakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dia sungguh Maha Tahu akan segala isi hati.(Al-Anfal 43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mungkin Dia tidak mengetahui siapa yang mencipta padahal Dia MahaHalus dan Maha Mengetahui.(Al-Mulk 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dari sinilah bersumber segala kecelakaan untuk manusia-manusia sesat,manusia-manusia malang lagi bingung, manusia-manusia yang tak pernah dewasa dan tak bakal dapat petunjuk, tak akan memperoleh ketenangan dan kebahagiaan; kecuali jika mereka mengembalikan fitrahnya kepada penciptanya yang Maha Agung, sebagaimana mereka kembalikan pesawat-pesawat yang sederhana yang rusak kepada montir yang juga sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mengenyampingkan islam dari pimpinan kemanusiaan adalah satu peristiwa hebat dalam sejarah, satu malapetaka yang mematahkan sendi-sendi kehidupan. Suatu musibah yang belum pernah dikenal dan tak ada tolok bandingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Islam pernah menerima kepemimpinan dunia ini sesudah &lt;br /&gt;kemanusiaan begitu rusaknya, kehidupan begitu kotor dengan pemimpin-pemimpin yang amat menjijikkan. Saat itu manusia merasakan neraka dari pimpinan yang menjijikkan itu.&lt;br /&gt;Timbullah bencana di laut dan di darat karena ulah manusia itu &lt;br /&gt;sendiri.(Rum 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Islam menerima pimpinan itu dengan Al-Qur'an, dengan konsep baru yang dibawa Al-Qu'an, dan dengan syari'at yang bersumber dari konsep baru itu.&lt;br /&gt;     Itulah dia kelahiran kembali kemanusiaan ini, agung dalam  hakikatnya dibandingkan dengan kelahiran dan pertumbuhannya terdahulu Al-Qur'an telah menumbuhkan dalam diri manusia ide tentang wujud, tentang kehidupan, tentang nilai-nilai, tentang aturan-aturan: sebagaimana islam telah membuktikan dalam kenyataan tatanan sosial yang unik, yang sebelumnya hanya ada &lt;br /&gt;dalam khayal manusia . Islam telah menampilkannya dalam kenyataan; dalam bentuk yang bersih dan indah, agung dan mulia, sederhana dan gamlang, nyata dan positif, seimbang dan serasi. Suatu kenyataan yang tak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya; kalau tidaklah iradah Allah menginginkannya dan menerapkan dalam kehidupan. Di bawah naungan Al-Qur'an, dengan metode Al-Qur'an, dengan syari'at Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemudian terjadilah bencana yang menakutkan itu, Islam dicopot dari kepemimpinannya, kembali digantikan oleh kepemimpinan jahiliyah dalam berbagai bentuknya. Kembali kepada bentuk pikiran materialis yang begitu mempesona manusia sekarang. Persis seperti anak-anak terpesona dengan baju yang berwarna-warni atau mainan denga warna yang menarik !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Di kala itu muncullah gerombolan pemimpin yang sesat dan &lt;br /&gt;penipu, musuh kemanusiaan. Mereka pisahkan metode ilahi dari hasil penemuan manusia di bidang materi. Mereka letakkan metode ilahi di satu pihak, dan penemuan manusia di sini lain; lalu mereka berkata: Pilih salah satu !!!  Pilih metode ilahi tapi tinggalkan semua hasil penemuan di bidang materi, atau pilih hasil olahan manusia dan lepaskan metode ilahi !!! Ini adalah suatu penipuan yang licik. Inti masalahnya sama sekali tidaklah demikian.  &lt;br /&gt;Metode ilahi tidaklah memusuhi penemuan manusia malah dia memupuk dan mengarahkannya ke jurusan yang benar, supaya manusia dapat tumbuh sesuai dengan posisinya sebagai khalifah di muka bumi ini. Posisi ini dikaruniakan Allah untuk manusia, berikut pengaturannya. Untuk itu, manusia diberi tenaga potensial yang diperlukan; hingga dengan demikian ia dapat melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Dipersiapkan pula untuknya &lt;br /&gt;hukum-hukum alam yang akan membantu manusia dalam mewujudkan tugasnya. Di samping itu ada pula keterjalinan antara tatanan diri manusia dengan tatanan alam, hingga ia dapat menguasai kehidupan, berbuatm dan mencipta. Dengan ketentuan, penciptaan itu haruslah dalam rangka berubudiyah kepada Allah,&lt;br /&gt;sarana untuk mensyukuri nikmatNya; sebagai pelengkap syarat &lt;br /&gt;kekhalifahannya.&lt;br /&gt;      Dengan demikian ia akan berbuat dalam batas ruang gerak yang diizinkan Allah. Adapun orang-orang yang memisahkan antara metode ilahi dengan hasil daya manusia di bidang materi mereka itu adalah orang-orang yang berniatdan berbuat jahat. Mereka memburu-buru kemanusiaan yang memang sedang lesu dan bingung; lesu karena niat tak kesampaian, bingung karena salah jalan,lalu ingin mendengar suara-suara yang dapat memberikan petunjuk atau nasehat, ingin meninggalkan kesesatan, kembali kepada ketenangan di bawah perlindungan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Di samping itu ada pula manusia-manusia yang tidak kurang niat baiknya, tetapi mereka tidak memiliki kesadaran yang cukup, serta kurang tanggap. Mereka kagum dengan penemuan-penemuan manusia di bidang energi dan pengetahuan alam, mereka terpersona dengan kemampuan manusia di bidang materi. Kekaguman itu mengakibatkan terpisahnya kemampuan materi dengan nilai-nilai iman dalam perasaan mereka; terbelah fungsi dan pengaruhnya,&lt;br /&gt;baik di alam nyata maupun dalam menyataan hidup.&lt;br /&gt;     Dengan demikian mereka telah menempatkan alam punya bidangnya sendiri, dan nilai-nilai iman punya bidangnya sendiri pula. Mereka mengira bahwa hukum alam akan tetap berjalan di jalurnya sendiri tanpa dipengaruhi oleh nilai-nilai iman. Hukum-hukum itu akan memberikan hasil, tak perduli apakah manusia beriman atau kafir, apakah mengikuti metode Allah atau menentangnya,&lt;br /&gt;apakah berpedoman kepada syari'at Allah atau mengikuti hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Semua itu adalah wahammereka pisahkan kedua sunnah alam &lt;br /&gt;tersebut, yang Pada hakekatnya adalah satu tak terbelah. Nilai iman adalah bagian dari sunnah Allah, sebagaimana juga hukum alam adalah juga bagian dari sunnah Allah; keduanya saling terikat, saling terkait. Dalam perasaan dan pandangan seorang mukmin, tak ada alasan untuk memisahkan kedua sunnah Allah itu.&lt;br /&gt;     Inilah pandangan yang benar, pandangan yang ditumbuhkan oleh Al-Qur'an dalam dalam diri; kalau diri itu mau; hidup di bawah naungan Al-Qur'an. &lt;br /&gt;     Pandangan itu tumbuh saat Al-Qur'an berbicara tentang ahli kitab terdahulu, tentang penyelewengan mereka, akibat penyelewengan itu di akhir perjalanan.&lt;br /&gt;      Seandainya ahli kitab itu mau beriman dan bertaqwa niscaya Kami hapuskesalahan-kesalahan mereka dan Kami masukkan mereka ke dalam surga jannatunna. Kalaulah mereka menegakkan Taurat dan Injil serta apa-apa yang diturunkan untuk mereka dari Rob mereka, tentulah mereka dapat memakan rezki yang datang dari atas dan dari bawah telapak kaki mereka.  Diantara mereka&lt;br /&gt;itu terdapat ummat yang konsisten tetapi kebanyakan mereka amat jahat. (Al-Madah 65-66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pandangan itu tumbuh ketika Al-Qur'an mengisahkan janji Nuh a.s kepada kaumnya, lalu aku katakan: Minta ampunlah kepada Robmu. Dia benar-benar MahaPengampun; niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat untukmu, dan dibantuNya kamu dengan harta dan anak, serta diciptakanNya untukmu kebun-kebun dan&lt;br /&gt;sungai.(Nuh 10-12)&lt;br /&gt;    Pandangan itu tumbuh tatkala Al-Qur'an mengaikan antara kenyataan diri manusia dengan kenyataan alam.&lt;br /&gt;    Pasti Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka itu merubah apa yang ada di dalam diri mereka. (Ar-RaBu 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Iman kepada Allah, mantap beribadah, serta tegaar menegakkan syari'atNya di muka bumi, semuanya itu adalah dalam rangka melaksanakan sunnah Allah, sunnah yang bersifat aktif positif, berasal dari satu sumber yang menumbuhkan semua sunnah alam, yang dapat kita lihat pengaruhnya dalam alam.&lt;br /&gt;     Kita sering terpengaruh oleh gejala-gejala yang menipu, hinggak&lt;br /&gt;terpisahlah sunnah alam itu; yaitu ketika ia melihat keberhasilan&lt;br /&gt;sekularisme yang kelihatannya bertentangan dengan nilai-nilai iman,&lt;br /&gt;Pemisahan itu mungkin tidak tampak pada awal permulaannya tetapi pada akhirnya pasti muncul, Inilah justru yang telah dialami oleh masyarakat Islam,Titik naik masyarakat ini bermula pada waktu menyatunya hukum alam dalam kehidupan dengan nilai-nilai iman. Mulai menurun ketika terjadi pemisahan; dan akan terus meluncur turun setiap kali sudut perbedaan itu membesar; untuk akhirnya akan mencapai titik terendah, pada saat hukum alam dan nilai-nilai iman itu sama-sama dikesampingkan.&lt;br /&gt;       Di sisi lain berdiri peradabat materalis. Peradaban ini tak &lt;br /&gt;ubahnya seperti burung dengan sebelah sayap yang kokoh sedang sayap yang sebelah lagi lemah lunglai. Berhasil dalam penemuan-penemuan materi sekedar yang dapat dicapai oleh kemampuan, namun di segi lain mereka menjadi panik dan bingung, menderita penyakit jiwa dan saraf seperti yang selalu dicemaskan oleh sarjana-sarjana mereka. Andai saja mereka mau menerima petunjuk menuju petunjuk Allah; karena itulah satu-satunya tangkal dan obatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Adapun syari'at, ia merupakan sisi lain dari hukum-hukum &lt;br /&gt;Allah yang menyeluruh. Penerapan syari'at ini pasti memberikan pengaruh positif dalam menjalin jalan hidup manusia dan perkembangan alam, karena syari'at itu tak lain dari buah iman; tak mungkin tumbuh sendiri tanpa pohon induknya. Syari'at itu digariskan untuk dilaksanakan oleh masyarakat muslim; sebagaimana ia juga diciptakan untuk ikut berperan dalam membina masyarakat.&lt;br /&gt;      Syari'at dan konsep islam tentang wujud secara keseluruhan adalah saling menyempurnakan. Begitu pula antara syari'at dengan apa yang ditumbuhkan oleh konsep itu; ketaqwaan, kesucian perasaan, perhatian penuh, peningkatan moral, kemantapan amal. Demikianlah, nyata kelihatan adanya keterjalaninan dan keterpautan antar sunnah-sunnah, apakah itu disebut hukum alam atau dinamakan iman. Semuanya adalah sisi-sisi dari sunnatullah secara keseluruhan.&lt;br /&gt;      Demikian pula diri manusia, merupakah salah satu potensi alam; aktivitas dan keinginannya, iman dan amalnya, ibadat dan kegiatannya,Manusiapun merupakan potensi dengan pengaruh positif di alam ini. Selanjutnya manusia itu terkait dengan sunnah Allah yang mencakup segala wujud Semuanya berfungsi dan terarah. Jika seluruh faktor ini terkumpul dan terkoordinir, tentu akan membuahkan hasil yang sempurna. Sebaliknya akan jelek pengaruhnya, goyang tak seimbang, kehidupan pun akan rusak,&lt;br /&gt;penderitaan dan kesusahan bakal menyebar luas; seandainya timbul pemisahan dan pertentangan.Yang demikian itu adalah karena Allah tak akan merubah nikmat yang diberikanNya kepada suatu kaum, sampai mereka merubah apa yang ada dalam diri mereka. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Anfal 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Oleh sebab itu keterkaitan ini, dalam ruang lingkup sunnah Allah yang menyeluruh dan mencakup, harus wujud dan kokoh; keterkaitan antara perbuatan manusia dan perasaannya dengan segala peristiwa yang terjadi.Jangan sampai tumbuh keinginan untuk memutus tali ini, jangan ada alasan untuk melemahkan ikatan ini, jangan sampai timbul celah antara manusia dan sunnah Allah.&lt;br /&gt;    Kecuali oleh musuh-musuh kemanusiaan yang selalu memburu-buru tanpa petunjuk. Malah sebaliknya merekalah yang harus dikejar, digiring kembali kepada Robnya Yang Maha Mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                              ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Itulah sekelumit pandangan dan pendapat pada saat-saat &lt;br /&gt;menjalani kehidupan di bawah naungan Al-Qur'an. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat dan memberi petunjuk akan wujud apa yang kamu inginkan, kecuali jika Allah menghendakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                      *********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Terimakasih untuk Kakakku nun jauh disana (Dvt),Semoga persaudaraan ini tetap terjalin abadi dalam naungan Kasih dan Rahmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5303191-94608276?l=mirai-he.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/94608276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/94608276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mirai-he.blogspot.com/2003_05_01_archive.html#94608276' title=''/><author><name>Ayunda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12752343010585067851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5303191.post-92971055</id><published>2003-04-21T00:16:00.000-07:00</published><updated>2003-05-19T18:45:08.000-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;Cinta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo F. Buscaglia, begitu namanya. Seorang professor pendidikan di University of Southren California, di Amerika. Ia seorang dengan seabreg kegiatan sosial dan ceramah-ceramah tentang pendidikan. Satu tema yang terus menerus dibawanya dalam banyak ceramah, adalah tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia tidak jatuh 'ke dalam' cinta, dan tidak juga keluar 'dari cinta'. Tapi manusia tumbuh dan besar dalam, cinta," begitu katanya dalam sebuah ceramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Bandung Bondowoso tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ummatii, ummatii, ummatiii�c" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******************&lt;br /&gt;***Terimakasih untuk adikku ( BSP), Semoga Rahmat dan Lindungan Allah menyertaimu selalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5303191-92971055?l=mirai-he.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/92971055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/92971055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mirai-he.blogspot.com/2003_04_01_archive.html#92971055' title=''/><author><name>Ayunda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12752343010585067851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5303191.post-92970646</id><published>2003-04-21T00:02:00.000-07:00</published><updated>2003-05-19T17:59:30.000-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>          &lt;b&gt;Mirai He &lt;br /&gt;( Menuju Masa Depan )&lt;br /&gt;by:Kiroro&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hora.....,asimoto wo mite goran..&lt;br /&gt;( Ayoo...lihatlah langkah kakimu..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorega anatano....ayumi michi....&lt;br /&gt;( Itulah jalan kehidupanmu....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hora.....mae mo mite goran &lt;br /&gt;( Ayoo...lihatlah pula ke depan..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arega anatano mirai......&lt;br /&gt;( Disanalah masa depanmu..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha ga kureta ...takkusan no yasasisa....&lt;br /&gt;( Begitu banyaknya bunda telah memberikan kasih sayangnya....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ai wo idaite.....ayumeto furikaesita....&lt;br /&gt;( Bersama Cinta bunda dapatku mengerti....kehidupan yg silih berganti )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anotokiwa mada osakunate ,iminado siranai.....&lt;br /&gt;( Saat itu aku masih terlalu kecil...belum mengerti arti semua itu )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonna watashiwo te wo nigiri....Isyoni ayunde kita&lt;br /&gt;( Bunda yang selalu membimbingku dalam menjalani masa depan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yume wa itumo....Sora takaku aru kara...&lt;br /&gt;( Cita cita selalu tinggi di atas langit )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Todokanakute.....kowai ne....Takedo oi suzukeruno...&lt;br /&gt;( Bila tak tercapai memang menyedihkan , tetapi jangan takut tetaplah melangkah bercita-cita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jibun no story takara koso ...akira meta kunai&lt;br /&gt;( Tentukan langkah sejarah hidupmu..Janganlah berputus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huangni naruto te wo nigiri...isyoni ayundekita&lt;br /&gt;( Jangan cemas dan jangan takut...do`a bunda selalu menyertaimu )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sono yasashisa wo.......Tokiniwa iyagari..&lt;br /&gt;( Kasih sayang itu ..dulu selalu kulecehkan...selalu kusakiti hati bunda )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanareta haha he suna wo ni narezu&lt;br /&gt;( Sekarang jauh terpisah dari bunda....baru ku sadari segalanya )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hora asimoto wo mite goran...sorega anatano ayumi michi&lt;br /&gt;( Ayoo..lihatlah langkah kakimu...itulah perjalanan hidupmu )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hora...mae mo mite goran...arega anato mirai&lt;br /&gt;( Ayoo...lihatlah pula kedepan...di sanalah masa depanmu )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirai wo mukatte....Yukuri to aruite iko wo&lt;br /&gt;( Perlahan namun pasti...jemputlah masa depanmu dengan hati penuh keyakinan ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5303191-92970646?l=mirai-he.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/92970646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5303191/posts/default/92970646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mirai-he.blogspot.com/2003_04_01_archive.html#92970646' title=''/><author><name>Ayunda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12752343010585067851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
